• Office: +62-274-898444 ext. 3267

Editorial 10 (Volume 5, Nomor 2, April 2011)

      Jurnal Komunikasi Volume 5 nomor 2, April 2011 ini dibuka dengan pembacaan Ahmad Alwajih terhadap kitab Adab Addunya Waddin karya cendekiawan Muslim, Al-Mawardi. Dengan kacamata hermeneutika, Alwajih menemukan kesesuaian pemahaman mengenai etika yang dijabarkan dalam kitab ini dengan etika komunikasi universal.
 
     Dalam kitab yang ditulisnya, Al-Mawardi telah menguraikan etika kehidupan dunia dan beragama secara sistematis. Pertama, penggunaan akal dalam berkomunikasi. Ini diletakkan sebagai pondasi kehidupan manusia. Kedua, diletakkan dalam proses belajar manusia, maka komunikasi haruslah efektif dalam ruang lingkup pendidikan. Ketiga, proses pendidikan melalui bahasa tertulis dengan menekankan pada kemudahan pembaca dalam membaca tulisan –sebuah konsep yang sangat sesuai bila diterapkan di bidang jurnalistik. Keempat, mengupayakan diri untuk menahan hati dari godaan dunia. Dalam pembacaan melalui kacamata ilmu komunikasi, pesan-pesan Al-Mawardi akan terbaca menjadi menahan diri dari –dalam bahasa Jean Baudrillard– “godaan” media. Kelima, ide besar Al-Mawardi untuk memproyeksikan kembali sosialisme religius seperti kesuksesan Nabi Muhammad beberapa abad silam. Keenam, koherensi antara musyawarah dan etika diskursus Habermasian. Berkomunikasi dalam bentuk yang paling elementer adalah berbicara. Namun, pembicaraan seringkali menjadi pisau bermata dua yang bisa melukai si pembicara sendiri. Oleh karenanya, pembicaraan terbaik tempatnya pada musyawarah.
       Tulisan kedua dan ketiga membahas program religi di televisi. Kedua tulisan sama-sama menggugat isi tayangan program religi bertajuk Islam Itu Indah di TransTV. Bedanya, melalui program religi tersebut Monika Sri Yuliarti menguji kecurigaannya bahwa media terlalu menonjolkan fungsi hiburan ketimbang fungsi-fungsi sosial lainnya. Sebab, isi tayangan Islam Itu Indah kebanyakan humor, candaan, dengan ustadz gaul yang amat kocak, plus bintang tamu dari kalangan selebritis. Akibatnya, penonton program religi tidak tercerahkan. Karena isi tayangan hanya menghadirkan (sangat) sedikit muatan agama –yang penyampaiannya juga digampangkan– penonton hanya peduli pada upaya peningkatan kesalehan pribadi, tanpa terdorong untuk memikirkan masalah umat yang amat beragam dan kompleks.

     Sementara, Puji Hariyanti mengamati sisi yang lain dari program religi Islam Itu Indah. Dengan kacamata analisi wacana kritis model Norman Fairclough, Hariyanti menyatakan program religi dengan kemasan seperti Islam Itu Indah telah mendorong lahirnya paham hedonisme spiritual. Oleh para penganut paham ini, beragama bagi mereka adalah untuk bersenang-senang. Wacana hedonisme spiritual dapat dilihat dari bagaimana ceramah agama seorang ustadz ditampilkan dalam teks. Jika media memandang ajaran agama bisa dijadikan bahan gurauan atau hura-hura, maka masyarakat juga akan melihat ajaran agama sebagai bahan gurauan dan bisa ditertawakan.
 
     Menurut Hariyanti, secara umum pembuatan sebuah program religi sebaiknya melibatkan pihak-pihak yang paham tentang dakwah Islam agar kualitas terjamin, selain itu stasiun televisi sebaiknya membuka kesempatan bagi pada da’i untuk lebih berperan sebagai pendakwah yang baik dalam menyampaikan dakwahnya bukan hanya berperan mengikuti skenario yang disediakan pihak stasiun televisi.
 
     Mahfud Anshori, dalam artikel keempat menjelaskan proses pengerangkaan berita di tiga situs berita online di Indonesia. Tiga situs yang dikaji memiliki akar tradisi jurnalistik yang berbeda. Situs Kompas.com, merupakan hasil konvergensi dari suratkabar KOMPAS. Sementara Liputan6.com merupakan versi online dari tayangan Liputan 6 SCTV. Sedangkan yang terakhir, Detik.com, adalah situs berita online murni.
 
     Dari hasil analisis framing model Teun Van Dijk, Anshori menyimpulkan bahwa konstruksi berita online masih dipengaruhi secara dominan oleh basis/tradisi jurnalistik dari masing-masing media dibanding dengan tuntutan konvergensi teknologi. Pengaruh tersebut berhubungan dengan rutinitas produksi berita wartawan, eksploitasi moda komunikasi, dan keterampilan terkait dengan konvergensi teknologi. Khusus untuk jurnalistik online, pengaruh dari tradisi jurnalistik cetak lebih mendominasi daripada tradisi jurnalistik televisi. Konstruksi berita online berbasis jurnalistik televisi cenderung mendekati prinsip-prinsip berita online secara ideal dibanding dengan portal berita online bertradisi jurnalistik cetak ataupun pada portal berita online murni. Implikasi dari kajian ini adalah bahwa jurnalistik online memuat kombinasi antara kedua tradisi jurnalistik tersebut, sehingga mengkaji jurnalistik online merupakan suatu kajian komprehensif tentang logika media dan jurnalisme kontekstual.
 
     Tulisan selanjutnya oleh Ansor bicara tentang teori agenda setting dan pembentukan opini publik. Kajian ini ingin melihat bagaimana teori agenda setting bekerja dalam konteks kehidupan politik di Indonesia, utamanya berkenaan dengan kasus korupsi. Untuk menunjukkan bagaimana pengaruh agenda media pada agenda publik, Ansor menyertakan hasil-hasil jajak pendapat yang dipublikasikan oleh Tim Litbang KOMPAS dan Lembaga Survei Indonesia (LSI). Hasil-hasil jajak pendapat tersebut meneguhkan bahwa terdapat korelasi signifikan antara berita-berita di surat kabar dengan bagaimana masyarakat memberikan persepsi atas kasus-kasus korupsi dan pemerintah.
 
     Artikel keenam oleh Kamil Alfi Arifin membahas topik status keistimewaan Yogyakarta yang sempat menjadi “bola panas” dalam kancah politik Indonesia. Topik ini memuncak kala Presiden SBY mengaitkan pemerintahan DIY dengan sistem monarki. Masyarakat Yogyakarta yang terkenal sebagai kaum loyalis Sultan bagai tersengat saat mengetahui hal tersebut. Mereka lalu turun ke jalan untuk menuntut penetapan status keistimewaan Yogyakarta, sekaligus menantang pemerintahan SBY.
 
     Arifin melalui risetnya menemukan banyak informasi menarik mengenai cara kelompok-kelompok pro keistimewaan dan penetapan ini menggunakan media luar ruang untuk membangun wacana. Teks-teks yang tampak di media luar ruang tersebut dikupas menggunakan pisau analisis wacana visual. Dari riset ini terlihat bahwa kelompok pro keistimewaan dan penetapan, secara kewacanaan dalam ruang publik, lebih bertindak superior dan meminggirkan kelompok-kelompok yang lain. Kelompok ini juga melakukan pembakuan-pembakuan pengetahuan tentang keistimewaan Yogyakarta melalui strategi berwacana yang memanfaatkan media luar. Strategi yang digunakan dalam teks untuk membangun wacana berupa penggunaan common sense, parodi, jargon ilmiah/akademis, dokumen sejarah, klaim ruang publik dan generalisasi.
 
     Selain mengetahui wacana yang dibangun oleh kelompok pro penetapan melalui media luar ruang, Arifin juga menemukan adanya relasi kuasa di balik wacana tersebut. Bentuk relasi kuasa yang ditemukan adalah pembiaran pemasangan media luar yang belum mengantongi izin. Ada relasi kuasa antara Sultan sebagai pemimpin daerah, walikota, dan gerakan-gerakan pendukung keistimewaan dan penetapan. Gerakan pro keistimewaan dan penetapan yang notabene diruaki masyarakat akar rumput (subaltern) Yogyakarta ternyata tidak bergerak sendirian, terdapat sinyal dukungan dari keraton sebagai bagian dari state aparatus yang mengalami keterpecahan. Keraton melakukan proses interpelasi yang dilakukan dengan berbagai mecam teknik, termasuk pembiaran media luar yang tanpa izin dan penyediaan ruang.
 
     Menutup edisi ini, Sumanri menyampaikan kritik tajam terhadap tayangan Pangkur Jenggleng di TVRI Stasiun Yogyakarta. Tayangan ini merupakan edisi re-package dari versi lama yang disiarkan RRI Nusantara II era 60-70 an. Berdasarkan hasil risetnya, Sumanri menyatakan bahwa versi audiovisual yang ditayangkan TVRI Yogyakarta menunjukkan adanya perubahan format dan cara penyampaian pesan, yang akhirnya berindikasi pada komodifikasi budaya Jawa akibat tuntutan pasar.
 
     Komodifikasi ini terjadi melalui proses penyesuaian isi tayangan dan perubahan genre acara seni budaya menjadi acara komedi berbasis budaya Jawa melalui aktivitas produksi, distribusi, dan konsumsi. Di titik ini, komedi merupakan bagian budaya massa yang banyak diproduksi kaum kapitalis untuk mencari keuntungan.  Komodifikasi yang terjadi pada tayangan Pangkur Jenggleng di TVRI Yogyakarta ternyata dipengaruhi  ideologi kapitalis yang bekerja untuk kepentingan akumulasi modal dan bergantung pada kekuasaan pasar. Kuasa pasar yang beroperasi dalam tayangan Pangkur Jenggleng juga berimplikasi pada keterlibatan kekuasaan politik dengan relasi yang dibangun TVRI dengan Pusat Informasi Amien Rais (PIAR). Ideologi kapitalis masuk dalam TVRI yang notabene merupakan lembaga pemerintah melalui kelemahan regulasi yang dimanfaatkan oleh aparat organisasi penyiaran untuk memperoleh akumulasi modal.
 
     Demikian sekelumit sajian Jurnal Komunikasi kali ini. Kami mengundang kontribusi berupa tulisan dari pembaca untuk edisi Jurnal Komunikasi berikutnya. Selamat membaca dan menikmati sajian kami.
 
 
 
 
 
 
 
 

Cara Memperoleh Jurnal Komunikasi UII

Email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
Telp: (0274) 898444, ext.3267
Harga tiap edisi Rp. 25.000 (belum termasuk ogkos kirim)
Minimal order 2 eksemplar 

Last Updated on Thursday, 30 July 2015 07:51