• Office: +62-274-898444 ext. 3267

Commart Fest 2017 : DO It Your Self

Email Print

Yogyakarta- Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia kembali menggelar Communication Artcademic  Festival 2017 setelah sukses menggelar sebelumnya di tahun 2015. Berbeda dengan tahun sebelumnya, kali ini Comart Fest 2017  kembali lagi digelar di Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta. Terdapat beberapa rangkaian kegiatan seperti Art Exhibition, National Competition, Public Discussion, Art Performance, Bazaar dan Awarding Night yang berlangsung dari tanggal 14-16 Desember 2017 dari jam 08:00-22:00 WIB.

Mengusung tema Do It Your Self, Commart Fest 2017  menyajikan atmosfer bagaimana kuliah di dunia komunikasi khususnya di Prodi Ilmu Komunikasi UII. Hal tersebut terlihat pada rangkaian acara Art Exhibition yang turut melibatkan karya dari mahasiswa, dosen, dan staf dari prodi Ilmu Komunikasi UII berupa foto, film, instalasi dan beberapa karya akademik lainnya. Tidak hanya itu saja, euphoria dunia komunikasi pun juga dituangkan melalui  Public Discusion.  Mengundang Eddie Cahyono (Film Director), Bimo Pradityo (Photographer), Nanang Rakhmad Hidayat ‘Nanang Garuda’ (ISI Lecture), dan Agus Yulianto (ISI Lecture) sebagai pemantik diskusi untuk barbagi wawasan.

Kepala Program Studi Ilmu Komunikasi UII, Muzayin Nazaruddin, mengungkapkan bahwa Commart Fest 2017 ini sengaja dilaksanakan di luar kampus dengan pertimbangan cangkupan audien yang lebih luas (14/11/2017). “Harapannya semoga event ini mampu meningkatkan kualitas karya mahasiswa dan bisa menjadi media untuk memamerkan karya ke publik Jogja,” papar Muzayin.

Penulis: Risky Wahyudi

Foto: Tim PDD Commart Fest 2017

PENGUMUMAN CEPT CAMP BATCH X

Email Print

Pengelolaan Artistik dalam Event Perlu Memperhatikan Aspek Nilai Lokal

Email Print

Yogyakarta- Artistik memiliki peran penting ketika mengelola suatu event. Melalui artistik mampu memberikan gambaran bagaimana konsep yang hendak disuguhkan kepada audiens dan bahkan juga mampu menjadi identitas tersendiri bagi event tersebut. Selain itu juga, dalam pengelolaan artistik dalam event perlu memperhatikan aspek nilai lokal.

Berangkat dari hal tersebut, PSDMA Nadim Komunikasi UII menggelar diskusi rutin bulanan yang mengangkat tema Manajemen Artistik dalam Event, Kamis (25/11/2017). Turut mengundang pemateri yang cukup cukup berkompeten di bidangnya Supono atau kerab dikenal dengan Pono Gimbal untuk berbagi pengalamannya di hadapan mahasiswa di RAV Lantai 2  gedung Prodi Komunikasi UII. Pono sebelumnya pernah menjadi direktur artistik dalam beberapa event besar seperti Dieng Culture Festival, Festival Pesona Telaga Menjer, Gumelem Ethnic Carnival, dan Pasa Harau Art and Culture Festival.

Pono menjelaskan bahwa ketika hendak mengelola suatu artistik, penting sekali memperhatikan apa potensi yang terdapat di sekitaran wilayah tempat diadakannya event tersebut. Karena dengan begitu tentunya akan mampu memperkenalkan  identitas dari suatu daerah dan menarik perhatian orang luar daerah untuk menghadiri event tersebut. Sebelum menentukan konsep artistik, perlu dilakukan riset untuk mengatahui apa saja potensi yang terdapat di sekitar wilayah tersebut. Sehingga nantinya konsep bisa berpatokan dari hasil temuan riset di lapangan. “Terkadang melalui masyarakat yang ada di sana bisa memunculkan ide atau wawasan,” ujar Pono.

Pono juga menjelaskan bahwa selama menggarap event perlu menumbuhkan rasa kebersamaan hingga memunculkan nilai kekeluargaan. Ketika diakhir sesi  Ia juga menjelaskan bahwa aspek atitude perlu diperhatikan ketika bekerja. Karena melalui atitude yang baik akan membantu mempermudah urusan  dalam pekerjaan.

 

Penulis: Risky Wahyudi

Foto: Risky Wahyudi

Perayaan HUT KOMPOR.KOM diwarnai dengan Pelatihan Memproduksi Film

Email Print

Film merupakan karya seni dalam bentuk audio visual yang tentunya juga termasuk dalam ranah kajian dunia komunikasi. Proses produksinya yang membutuhkan perhatian dari berbagai elemen menjadikannya harus menuntut kerja sama tim yang ideal supaya dapat mengahasilkan film yang berkualitas. Diperlukan koordinasi dan pemahaman terkait jobdesknya masing-masing agar tiap-tiap kru yang bertanggungjawab di bidangnya bisa memiliki kesamaan persepsi.

Berangkat dari hal tersebut Komunitas Pilem Orang Komunikasi (KOMPOR.KOM) menggelar workshop untuk persiapan dalam memproduksi film yang merupakan rangkaian dari acara HUT KOMPOR.KOM 2017 (18/11/17).  Berbeda dengan perayaan pada tahun sebelumnya, workshop kali ini digelar dengan mengundang pembicara dari sineas profesional dari bidang film dokumenter, M. Gunawan Iskandar dan juga sineas profesional dari film fiksi, Lulue Hendra yang digelar di ruang RAV, Gedung Prodi Ilmu Komunikasi UII.

Gunawan menjelaskan bahwa untuk proses produksi suatu film dokumenter bermula dari sebuah kegelisahan. Karena dengan adanya kegelisahan akan memberikan motivasi untuk bisa memproduksi film tersebut. Selain itu Gunawan juga menjelaskan bahwa gagasan film dokumenter berasal dari dua prinsip, yaitu berdasarkan subjek dan peristiwa. Subjek merupakan sosok yang bisa menceritakan suatu persoalan. Sedangkan peristiwa mengacu pada suatu kejadian atau persoalan yang terjadi di suatu daerah. Ketika menyampaikan materi Gunawan juga menjelaskan bahwa cerita film dokumenter itu sangat fleksibel dan memungkinkan terjadinya perubahan. “Ketika dalam proses produksi sangat memungkinkan terjadinya perubahan di lapangan karena suatu faktor atau alasan tertentu. Entah itu perubahan fokusnya mau pun perubahan ceritanya”, ujar Gunawan.

Sedangkan Lulue sang sutradara film Onomastika yang telah banyak meraih prestasi menyampaikan materi terkait bagaimana pekerjaan di balik layar dalam proses produksi film. Ia menjelaskan bahwa ide gagasan merupakan awal dari sebuah produksi film. Lulue memberikan penjelasan tentang bagian-bagian apa saja yang di balik film dan bagaimana cara mereka bekerja secara umumnya. “Credit title pada suatu film menggambarkan seberapa kompleks film tersebut dibuat,” ujar Lulue.

 

Penulis: Risky Wahyudi

Foto: Risky Wahyudi

Komunikasi UII Siap Meluncurkan Televisi Streaming di Awal Tahun 2018

Email Print

Yogyakarta-Televisi Streaming merupakan salah satu platform yang bisa dijadikan sebagai media alternatif dalam proses penyebaran informasi audio visual bagi suatu komunitas.  Selain itu juga bisa dijadikan sebagai platform yang tepat untuk menyalurkan potensi mahasiswa di dunia broadcasting. Berdasarkan hal tersebut, program studi Ilmu Komuikasi Universitas Islam Indonesia berinisiatif untuk membuat program Televisi streaming yang akan dilaunching pada awal tahun 2018.

Keseriusan dalam menggarap pelaksanaan program ini dibuktikan dengan digelarnya workshop terkait persiapan TV Streaming (17/11/17) yang diikuti oleh perwakilan dosen, staf prodi, laboran, staf PSDMA Nadim dan perwakilan dari mahasiswa komunikasi UII. Workshop tesebut digelar di lantai 2 Gedung FPSB UII dengan mengundang Tomy Widiyatno Taslim dari Yayasan Festival Film Pelajar Yogyakarta sekaligus penggiat media alternatif.

Tomy menjelaskan bahwa untuk fenomena pengelolaan TV streaming saat sekarang ini disarankan lebih berfokus terhadap pengelolaan TV Streaming dibandingkan terhadap pengelolaan konten. Karea menurutnya perhatian peran Program Manger dalam pengelolan ini sangat  penting karena eksistensinya akan mempengaruhi keberlangsungan terjalannya program TV ini secara berkelanjutan. Sedangkan untuk program acara yang akan ditayangkan, Tomy merekomendasikan untuk melakukannya dengan cara produksi, barter dengan jejaring, dan juga melalui perlombaan. Selain itu juga ada tiga hal lainnya yang menjadi perhatian dalam proses pengelolaan televisi streaming,  diantaranya pemograman, marketing dan teknik.

Pelatihan tersebut digelar dengan harapan mampu  meningkatkan kualitas dan produktivitas program studi Ilmu Komunikasi UII ke depannya. Tidak hanya berbicara tentang pelatihan seputar Persiapan  TV streaming saja, pelatihan tersebut juga sekaligus membincangkan  terkait beberapa rancangan program lainnya. Seperti program Festival Film Pelajar (Internasional/Asia), pemberdayaan masyarakat dalam konteks media alternatif dan project terkait Film Dokumenter tentang sejarah Perkembangan Islam di Indonesia.

 

Penulis: Risky Wahyudi

Foto: Risky Wahyudi