Webinar Series NADIM: Konstruksi Kelas Menengah di Majalah Rolling Stone Indonesia

Reading Time: 2 minutes

Siapa yang menentukan berada di kelas sosial apa kita di masyarakat? Jawabannya bisa bermacam-macam. Salah satunya yang menentukan adalah majalah musik. Majalah musik mendefinisikan bahwa selera musik kita menunjukkan dimana level kelas kta dalam masyarakat. Masyarakat penyuka musik dangdut dan pop melayu adalah selera kelas bawah sedangkan rock, pop, dan jazz adalah selera kelas menengah.

 

Hal-hal tersebut diungkapkan oleh Kavca Diosaputra dari hasil risetnya dalam majalah musik Rolingstone Indonesia (RSI). Mahasisswa tingkat akhir Ilmu Komunikasi UII itu mempresentasikannya dalam rangkaian acara Webinar series episode 16 yang diselenggarakan oleh Pusat Studi dan dokumentasi media Alternatif (PSDMA) NADIM Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia pada Jumat, 16 April 2021.

 

Diosaputra yang kerap disapa Dio mengumpulkan arsip dalam rentang 12 tahun sejak 2005 hingga 2017. Dalam arsip majalah yang ia temukan wacana yang paing sering sering muncul adalah konser. Baik berita, review konser, persiapan, cerita dibaik panggung, kerusahan, dan lain sebagainya.

 

Dari artikel-artikel tentang konser di majalah RSI tersebut, Dio menarik beberapa ide pokok tentang apa itu konser. Konser dan musik adalah alat politik kelas menengah atas. Disini, konser adalah tempat melarikan diri dari rutininas keseharian (leisure). Rutinitas harian yang maksud adalah rutinitas antara rumah, keluarga, dan pekerjaan dalam ruang kantor. Yang artinya dalah pekerjaan yang bersifat formal, bukan pekerjaan di luar ruang seperti pedangan, supir, atau pekerjaan ain luar ruangan yang sering disebut pekerjaaan informal.

“Konsep-konsep dominan yang dibicarakan dalam majalah Rolling Stone Indonesia cenderung membicarakan kepentingan kelas atas”

-Kavca Diosaputra-

 

Dalam mendefinikan kelas menengah selain melalui konser dan jenis musik tertentu, juga ditunjukkan melalui berita. Misalnya, artikel yang menggangkat musik dangdut dan pentas panggungnya. Konser dangdut selalu diidentikkan dengan kerusuhan dan mabuk. Selain itu, diksi yang digunakan selalu menggunakan kata ‘rakyat’ dan ‘selera rakyat’. Kata ‘rakyat’ selalu diidentikan dengan masyarakat kecil atau wong cilik.

 

Selain dari sisi pemilihan kata, mitos kelas menengah dalam majalah RSI juga terihat dari porsi tuisan dan mengedepankan subjek otoritas (misalnya: pemerintah) sebagai narasumber utama berita, bukan penonton ataupun pedangang, petugas kebersihan, dll.

 

Bukti selanjutnya adalah berkaitan dengan topik-topik artikel yang dibawa dalam majaah RSI. “Konsep-konsep dominan yang dibicarakan dalam RSI cenderung membicarakan kepentingan kelas atas,” tulis Dio dalam salah satu slide presentasinya.

 

“Misalnya pembicaraan tentang pariwisata musik. Ini terlihat lebih mengedepankan bisnis besar daripada membicarakan ekonomi kelas bawah.” Dari apa yang dibicarakan dapat terlihat dimana RSI memposisikan keberpihakan dan mewacanakan kelas tertentu.