Posts

Reading Time: 2 minutes

Ekosistem film di Kalimantan belum berkembang dan bisa dibilang sama sekali tidak ada. Padahal Kalimantan memiliki harta cerita yang melimpah meski kurangnya wawasan mengenai ekosistem dan tradisi film. Itu dulu, sebelum Ade mulai merintis budaya film di sana. Ade Hidayat, Alumni Komunikasi UII angkatan 2005, menceritakannya pengalamannya ini pada pemirsa live Instagram IP Komunikasi UII (@ip.communication.uii).

Paparannya tersebut disampaikan dalam acara bincang-bincang rutin “Teatime” episode ke-12 pada 18 September 2020. Acara yang dipandu M. Iskandar T. Gunawan, Laboran Laboratorium Komunikasi UII, ini juga mengulik pengalaman Ade Hidayat yang inspiratif. Misal bagaimana ia merakit keterampilannya di bidang film sejak masih kuliah di semester awal.

Kisahnya menunjukkan Ade bukan pemain baru dalam dunia film. Ia juga  merupakan pionir sejak aktifitasnya di komunitas perfilman di Komunikasi UII beberapa tahun silam dengan membangun Kompor.kom (komunitas mahasiswa di bidang film). Kisahnya melambung hingga cerita tentang kegigihannya membangun budaya perfilman di kampung halamannya.

Kurangnya komunitas dan orang orang yang peduli dengan ekosistem film adalah isu yang paling penting mengapa Ade ingin menghidupkan ekosistem film di kalimantan. Menghidupkan ekosistem perfilman yang dilakukan Ade tidak secepat itu membuahkan hasil. Ia membutuhkan waktu tujuh tahun lamanya.

Selama 2 tahun mengamati ekosistem film di kalimantan, Ade akhirnya mendapatkan teman yang sesuai dengan semangatnya. Mulanya ia membuat Screening Film dan peta besar rencana kegiatan perfilman. Ini , makan waktu lima tahun. Tahun pertama, ia membuat program yang bernama Ngofi. Tahun kedua, tahun edukasi film. Tahun ketiga, ia bikin produksi film sederhana. Lalu pada tahun keempat,  produksi film dilakukan kembali sekaligus menggencarkan distribusinya. Sayangnya, rencana di tahun kelima mandeg terhalang oleh pandemi Covid-19.

Produksi Film dan Konsistensi

Semangat Ade tak muncul begitu saja. Banyak juga sineas di daerah lain juga memengaruhi. Misalnya, film Makassar yang berjudul Uang Panai yang menelan biaya produksi sekira 450 juta rupiah.  Target penonton film produksi lokal tersebut bisa menyentuh angka 550 ribu penonton.

Tak hanya itu, Uang Panai mendapatkan penghargaan khusus untuk Film Produksi Daerah dari Indonesian Box Office Movie Award (IBOMA) pada 2017. Dari sini Ade Hidayat merasa termotivasi dan akhirnya merintis ekosistem film di kalimantan. Harapannya, kelak ia dan sineas di kalimantan memiliki film yang pantas dikenal di seluruh Indonesia bahkan Dunia.

Singkat cerita, Ade kini dapat merasakan budaya perfilman yang kental di daerahnya. Tentu itu tak muncul dari ruang hampa. Kunci sukses Ade dalam dunia film terletak bagaimana selama kuliah ia menciptakan jejaring sosial, kerjasama, serta mempunyai target agar tetap konsisten. Komunikasi adalah kunci dari semuanya,” ujar Ade.

Gunawan, Host dalam diskusi ini, mengatakan pandangan senada. Kuliah adalah ladang mengolah relasi, latihan bekerjasama, dan tidak lupa konsistensi. “Ambil pengalaman sebanyak-banyaknya selama berada di dunia kampus,” pungkas Gunawan.

 

Writer: Ridwan Ainurrahman, Mahasiswa Ilmu Komunikasi UII 2016, Magang di International Program Komunikasi UII.

Editor: A. Pambudi W.