Tag Archive for: feminisme

Media perempuan
Reading Time: 3 minutes

Media yang membahas khusus perempuan tercatat sangat minim di Indonesia, baik media arus utama maupun media alternatif. Tentu fenomena ini menarik untuk dibahas sejalan dengan pesatnya media yang muncul di Indonesia. 

Data menunjukkan media di Indonesia mencapai 47 ribu dengan 43 ribu berbasis online dengan jumlah perusahaan media sebanyak 1.700 yang telah tercatat di Dewan Pers. Menariknya, tak ada data yang menunjukkan kategorisasi segmen pembaca serta temanya. Seperti diungkapkan oleh Dosen LSPR Lestari Nurhajati sekaligus Peneliti di Konde.co yang menyebutkan tentang keberlanjutan media perempuan di Indonesia dalam  diskusi “Selebrasi Kolaborasi Media Perempuan Menolak Mati” yang digelar di GoetheHaus, Jakarta, pada Sabtu, 3 Juni 2023.  

Diskusi ini juga dipantik oleh jurnalis Konde.co Nani Afrida, Sonya Helen Sinombor jurnalis Kompas, Pimred Digitalmamaid Catur Ratna Wulandari, Direktur PR2Media dan Dosen Ilmu Komunikasi UII Masduki, dan Ketua Dewan Pers Ninik Rahayu. 

“Pemetaan media perempuan sudah lama sekali tidak dilakukan, yang sedang kritis yang mana, sudah punah yang mana, yang menuju masa depan cerah yang bagaimana,” ungkap Lestari. 

Dalam diskusi itu, Lestari memberikan penjelasan terkait gerakan feminisme yang tengah masif diperjuangkan oleh perempuan-perempuan Indonesia, termasuk kaum laki-laki yang turut mendukungnya. Ia menyebut, cikal bakal gerakan ini memang berakar dari Indonesia. 

“Indonesia sudah lama sekali mengenal gerakan perempuan. Orang kalau bilang gerakan feminisme itu dari Barat, no! Itu salah. Indonesia itu punya gerakan perempuan yang memang bercita-cita untuk memajukan perempuan, kesejahteraan perempuan, ini yang coba kita angkat lagi,” tegasnya. 

Terkait tantangan media perempuan di Indonesia, dari hasil riset yang dilakoninya, Lestari mengategorikan dalam tiga periode waktu yakni era 1970-1990, 1990-2000, dan saat ini. Tampaknya, isu terkait pergerakan feminisme justru kurang laku, artinya isu konten cukup menjadi penghalang bagi media untuk menemukan audiens. 

Sementara untuk mendapatkan banyak pembaca Media Perempuan pada rentang tahun 1970-1990 cenderung didominasi dengan konten domestik, seperti kuliner, fesyen, dan lainnya. Sementara periode tahun 1990-2000, media perempuan lebih banyak mengeksplorasi tema perempuan muslimah yang digambarkan dengan perempuan yang taat dna menurut.  

“Muslimah itu ada satu titik dibatasi, yang sayangnya isinya tak jauh berbeda dengan kita harapkan untuk memperjuangkan gerakan,” tutur Lestari. 

“Dalam pendekatan Ilmu Kajian Media, media-media perempuan yang maju adalah yang masih menggunakan pendekatan dengan ragam rubrikasi yang menunjukkan sifat-sifat dalam konteks domestikasi kuliner, fesyen,” tambahnya.  

Hingga kini, hanya ada delapan majalah perempuan cetak yang masih bertahan, mayoritas franchise dari luar. Yang asli Indonesia hanya ada dua yakni Femina dan Kartini. Ada pula  11 radio, sementara tak ada satu pun televisi yang khusus untuk program tentang perempuan. 

Dalam diskusi tersebut juga turut dibahas isu bias gender ruang redaksi, namun beranjak dari segi kuantitas perempuan yang tergabung bergelut pada media nampaknya masih ada persoalan lain yang perlu mendapat sorotan. Nyatanya Jurnal Perempuan masih konsisten dan eksis hingga kini sejak berdiri pada tahun 1995. 

Jurnal Perempuan berkomitmen menulis isu tentang gender dan feminisme secara serius dan akademis. Apakah media ini lantas mendapatkan pangsa pasar yang tepat? Atau sekadar komitmen menyediakan public service news? 

Sementara Nani Afrida menyebutkan, tantangan saat ini adalah terkait keberlanjutan media yang didirikan. Selain dari berbagai isu, untuk mengisi konten Media Perempuan dianggap tak semudah menciptakan konten layaknya media mainstream. 

“Menjadi jurnalis untuk media perempuan itu gak hanya harus tahu 5W 1H, dia juga harus tahu konsep, harus tahu tentang perempuan, dan lain-lain, dan itu tidak bisa dimiliki semua orang,” terang Nani. 

Selaras dengan Nani, Catur Ratna Wulandari pendiri digitalmama.id mengeluhkan bahwa media sosial turut mengubah itu. Ia harus bersaing dengan influencer mama yang kerap membagikan konten menarik lewat Instagram, TikTok, dan media sosial lainnya. 

“Konten kita saingannya dengan influencer mama,” sebut Catur. 

Hal ini membuatnya lebih luwes lagi dan sering kehilangan arah tentang Media Perempuan yang pertama kali Ia gagas sebagai bentuk upaya kesejahteraan perempuan dan kesetaraan gender. Namun bukan berarti influencer mama memproduksi konten yang tak mengedukasi, melainkan pilihan variasi konten yang dinilai lebih menarik untuk dinikmati. 

Menjawab berbagai persoalan “Media Perempuan yang menolak Mati”, dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia sekaligus Direktur PR2Media, Masduki, menawarkan beberapa solusi kepada media alternatif yang selama ini kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah untuk meminta dukungan dari segi pembiayaan. 

Ia mengutarakan tiga mazhab terkait tawaran solusi tersebut. Pertama mazhab Eropa yang memberikan subsidi rutin setiap tahun untuk lembaga-lembaga alternatif. Kedua mazhab Amerika yang cenderung memberi subsidi kecil-kecilan seperti pengurangan pajak, upaya sumbangan atau hibah dari negara. Terakhir, meminta platform global seperti Google dan Facebook untuk memberikan donasi demi mendukung literasi berita yang tidak berhenti pada penciptaan tren dan acara saja. 

“Selain kita berkolaborasi, menurut saya karena ini kerja-kerja menyediakan publik servis news nutrisi untuk otak, seharusnya negara membantu kita, negara bertanggung jawab,” ungkap Masduki. 

Dalam kesempatan itu, Masduki juga mengapresiasi terbitnya buku hasil riset yang digagas oleh Konde.co yang selama ini kurang terjamah dan luput dari sorotan publik dan pemilik media di Indonesia. 

“Memproduksi pengetahuan baru, kita punya problem langkanya pengetahuan tentang jurnalisme gender berbasis perempuan. Buku ini memberikan amunisi yang penting sekali,” ucapnya. 

Dalam acara yang digagas oleh Konde.co yang bekerja sama dengan Voice dan Google News Iniative itu sekaligus dilakukan peluncuran riset berjudul “Kolaborasi Menolak Mati: Pemetaan Kondisi Media Perempuan di Indonesia” yang berisi tentang tantangan yang dihadapi media perempuan di Indonesia, baik media alternatif maupun media perempuan arus utama. Konde.co juga meluncurkan sebuah film berjudul “Silenced Worker” atau pekerja yang dibungkam. 

Usai pemutaran film dilanjutkan peluncuran buku “Kolaborasi Menolak Mati: Pemetaan Kondisi Media Perempuan di Indonesia” hadir juga dan Jurnalis Kompas Sonya Helen Sinombor dan Ketua Dewan Pers, Ninik Rahayu. 

 

Penulis: Meigitaria Sanita

 

Film horor paling laris di Indonesia
Reading Time: 3 minutes

Data menunjukkan jika genre film di Indonesia yang paling laris adalah film horor. Namun, menariknya rata-rata semua hantu dalam film horor selalu diwakili oleh perempuan. Kenapa demikian? Simak fakta dan data berikut ini.  

Tahun 2022 lalu film horor yang berjudul “KKN di Desa Penari” dinobatkan sebagai film terlaris sepanjang masa di Indonesia karena berhasil ditonton oleh 9,2 juta penonton. Hantu perempuan yang menjelma sebagai Badarawuhi menjadi ikon seramnya film “KKN di Desa Penari”.  

Lanjut lagi, menilik ke belakang tahun 2018 berdasarkan data yang dihimpun oleh Databoks Katadata, dari 13 judul film terlaris tahun 2018, 6 di antaranya ditempati oleh film bergenre horor. Deretan enam judul film bergenre horor tersebut cukup memikat pemirsa layar lebar dan meraih jumlah penonton lebih dari 1 juta.  

Enam film tersebut di antaranya Suzzanna: Bernafas dalam Kubur lebih dari 1 juta penonton, Sebelum Iblis Menjemput 1,1 juta penonton, Kuntilanak 1,24 juta penonton, Jailangkung 2 1,5 juta penonton, Asih 1,7 juta penonton, serta Danur 2: Maddah 2,6 juta penonton.  

Artinya masyarakat Indonesia memang gemar menonton film bergenre horor alasan praktisnya, “Daya tarik film-film horor itu terkait erat dengan jiwa orang Indonesia dan umumnya melekat pada budaya Timur yang dianggap identik dengan mistisisme dan kejadian makhluk supernatural dan peristiwa-peristiwa mistik”. (Jurnal ProTVF, Volume 4, No. 1, 2020)  

Lantas kenapa hantunya harus perempuan? Dari deretan film yang telah disebutkan di atas bisa dikatakan seluruhnya menampilkan hantu perempuan demi menyukseskan alur cerita. Apakah perempuan memang diidentikkan dengan hal mistis penuh keseraman?  

Kenapa perempuan selalu menjadi objek hantu?  

Menengok ke belakang ternyata film-film horor telah mengalami dinamika dari berbagai hal mulai dari narasi dan sinematografi. Narasi horor yang dibangun dari folklore (cerita rakyat atau budaya) beralih menjadi narasi urban legend (legenda urban atau kontemporer).  

Namun yang tak berubah adalah sosok perempuan sebagai perwujudan hantu dan menghantui dengan berbagai teror. Tercatat pasca reformasi beberapa film horor seperti Kuntilanak (2006), Suster Ngesot the Movie (2007) secara dominan menampilkan hantu perempuan sebagai antagonis.  

Artinya ada ketimpangan representasi perempuan dibandingkan dengan laki-laki dalam sejarah film horor di Indonesia, ditambah kerasnya budaya patriarki dan misogini.  

Melansir dari hasil riset Justito Adiprasetio dan Annisa Winda Larasati yang diterbitkan pada Juni 2022 lalu menampilkan data yang begitu kontras terkait pemilihan pemeran hantu di Indonesia.  

Dari 559 film horor Indonesia yang terbit selama periode 1970-2019 menunjukkan bahwa perempuan sangat dominan direpresentasikan sebagai hantu dan karakter utama. Setidaknya 60,47 persen atau 338 film horor sosok hantu diperankan oleh perempuan, sementara 24,15 persen atau sekitar 135 film horor pemeran hantunya adalah laki-laki.  

Sisanya film horor yang menampilkan posisi peran berimbang hantu laki-laki dan perempuan hanya 15,38 persen atau 86 film saja.  

Saat menonton film horor Indonesia tentu kita menyadari tiga hal yang tak mungkin terlewat yakni komedi, seks, dan religi. Teranyar, film KKN di Desa Penari juga menceritakan bagaimana perempuan berbuat ulah hingga terjadi kekacauan serta eksploitasi seksual. Sementara sosok Mbah Buyut (laki-laki) bertindak sebagai pihak yang menyadarkan, menyembuhkan, dan mengusir hantu. 

Perempuan yang menjadi hantu biasanya berawal dari ketidakadilan dari laki-laki, mereka bangkit membalas dendam. Namun narasi yang dibangun dari menuntut ketidakadilan berubah menjadi monster antagonis.  

“Film horor hampir selalu menampilkan paradoks atas sosok perempuan. Di satu sisi, mereka dikonstruksi sebagai korban, sedangkan di sisi lain, mereka punya sifat layaknya monster. Perempuan dalam film awalnya ditampilkan sebagai korban, lalu kemudian berubah menjadi hantu yang menampilkan sisi monster.” (Dominasi hantu perempuan dalam film horor Indonesia)  

Artinya ada justifikasi terhadap perempuan, perempuan dianggap “seharusnya” tidak boleh melawan agar diterima secara sosial, kultural, dan seksual. Femininitas dikonstruksikan sebagai hal mengganggu sistem, identitas, dan tatanan serta tidak taat pada posisi, batas, dan aturan yang ada. 

Lantas bagaimana agar peran ini menjadi adil bagi perempuan? Menyambut Hari Film Nasional (HFN) dirayakan setiap tahun, pada 30 Maret 2023 sesuai dengan tema HFN tahun ini yakni “Bercermin Pada Masa Lalu, Merencanakan Masa Depan”, perlu campur tangan perempuan dalam dunia film horor terutama dalam segi gagasan, ide, hingga produksi.  

Minimnya sutradara perempuan dalam produksi film horor disinyalir membuat kuatnya budaya patriarki dan misogini. Tentunya industri film horor Indonesia sangat membutuhkan perspektif perempuan di tengah dominasi sutradara laki-laki. Hal ini diperlukan demi meningkatkan kualitas film di Indonesia serta ajang refleksi ekosistem industri perfilman. 

 

Penulis: Meigitaria Sanita