Reading Time: 2 minutes

Lanjutan dari Sejarah Jurusan Komunikasi UI (1)

Haryanto berhasil mengumpulkan data-data Komunikasi UI dari beragam sumber. Misal data guru-guru besar Profesor Komunikasi di UI beserta disertasinya, perubahan nama dan fakultas, dan tajam melihat kecenderungan tidak tajamnya ilmu sosial di Indonesia karena ketatnya pengawasan Orde Soeharto.

Dalam diskusi via aplikasi video konferensi zoom ini juga muncul beberapa fakta-fakta baru yang dilengkapi dari para peserta yang mayoritas bicara sebagai akademisi UI. Misalnya Ade Armando, Pinckey Tri Putra, Nina Muthmainnah. Ada juga I Gusti Ngurah dari UGM, Masduki dari Komunikasi UII dan lain-lain.

“Ini adalah penelusuran awal. ini hanya membuka pintu-pintu dan mudah-mudahan omongan saya akan memancing kampus-kampus lainnya juga menggali data yang sama sehinga kita bisa melihat,” kata Haryanto.

Fakta lain misalnya, “Kenapa UGM baru punya satu profesor/ guru besar? Saya belum cek lebih jauh. Unhas minimal ada cukup banyak. Artinya ini kan menarik, Unhas lebih muda, udah banyak profesor. UGM yang lebih tua, kok baru punya dua profesor. Apakah ini adminsitatif atau apa? UGM yg harus menjawab.” kata Haryanto. “UI padahal lebih muda, tapi punya 12 profesor. Kenapa? Mari teliti lebih jauh,” ajaknya.

I Gusti Ngurah menjawab, sebagai dosen UGM, fakta ini terjadi bisa saja karena terjadi kemandegan pada era 80an. Saat itu Ketua Jurusan Komunikasi UGM stagnan. Ia menjabat terlalu lama dan banyak dosen tidak meneruskan studi. Barulah di generasi muda akhir 80-90an muncul hawa baru semangat pembaruan.

Adakah Komunikasi Mazhab UI atau Indonesia

Masduki dari Komunikasi UII juga sempat bertanya, ” sejauh pengamatan hingga sekarang, apakah fenomena dua kubu akademik di UI: positivis-empiris-kuantitatif developmentalis vs. kritis-normatif-kualitatif ini dalam dua puluh tahun terakhir kemudian secara produktif melahirkan suatu sintesis keilmuan/pendekatan kajian komunikasi baru yang khas Indonesia atau ini tetap berlangsung sebagai konflk mazbah keilmuan yang terbuka atau laten?”

Belum ada jawaban final. Namun Pinckey Tri Putra mencoba menjawab. Ia mengatakan, sampai saat ini belum ada rumusan yang seperti disebut Masduki sebagai kajian keilmuan komunikasi khas indonesia di UI. UI masih jauh, katanya. Ia masih terus berproses dan berkembang. Menurutnya, proses ini belum menemukan sesuatu yang khas Indonesia.

Yus Ariyanto, salah satu peserta, juga bertanya. “Kayaknya (hampir) semua guru besar komunikasi UI lahir dari “rahim” publisistik/komunikasi massa. Ada apa dengan ranah hubungan masyarakat atau periklanan?” tanyanya.

“Pada awal 1980, terdapat peminatan Humas, Periklanan. Komunikasi Massa, dan Komunikasi Pembangunan. Kemudian Komunikasi Pembangunan ditiadakan. Belakangan berkembang peminatan Jurnalisme. Komunikasi Massa berubah menjadi Kajian Media,” kata Nina menjawab. Ia, dan Haryanto ingin mengatakan, bahwa hal ini bisa saja terjadi karena ada pengaruh yang besar dari pemikiran yang dibawa dosen-dosennya. Misalnya sebelumnya dijelaskan pengaruh besar Prof. Dedy Nur Hidayat dengan pemikiran kritisnya.

Panduan Riset Sejarah dan Membaca Arsip

Dalam studi sejarah komunikasi ini, bisa merunut panduan yang sangat mendasar. Luthfi Adam, pembicara Forum AES sesi pertama mengatakan, kita bisa menggunakan panduan riset sejarah yang sangat mendasar lewat buku karya Mary Lynn Rampola berjudul “A Pocket Guide to Writing in History.”

Sedangkan untuk panduan membaca arsip, “bisa pakai buku “Allure of the Archive” karya Arlette Ferge. Kalau panduan melakukan riset humanities coba cek “How to Write a Thesis” karya Umberto Eco,” jelas Luthfi dalam kolom Chat fitur aplikasi Zoom mencoba melengkapi diskusi sejarah komunikasi ini.