Bagaimana Jerih Payah Imam dari Komunikasi UII dan Tim PSM MV UII Berbulan-bulan Berbuah Kemenangan

“Bass berisik muluk nggak bisa diem,” sentak Irene Vista pada kelompok laki-laki posisi bass yang malah bercanda saat ikut berlatih waktu itu. Satu waktu, Irene juga tegas memberi wejangan pada seluruh Choir, “kalau bisa kalian jangan konsumsi gorengan dan makanan pedas dulu sampai lomba selesai,” tambahnya tegas, kenang Imam Akbar Pohan salah satu Choir. Lelah, marah, capek, deg-degan, juga: semangat menggebu kata Imam. Namun demi menuju kompetisi 6th Singapore International Choral Festival 2019, itu semua choir Paduan Suara Mahasiswa Miracle Voices (PSM MV) Universitas Islam Indonesia (UII) itu patuh pada Irene, pelatih mereka.

Saat itu Imam, adalah salah satu yang ikut bercanda saat latihan itu. Maklumlah, lelaki asal Sumatera Utara itu, mungkin penat, dan juga lelah tak bisa terhindarkan bila latihan berlangsung berhari-hari, dengan lagu yang itu-itu terus, bahkan sebenarnya, berbulan-bulan. Belum lagi harus ikuti aturan-aturan dari pelatih. Apalagi soal makanan, tentu bikin pengin kucing-kucingan, sembunyi-sembunyi makan makanan kesukaan: gorengan dan makanan pedas. “Ya awalnya kayak nggak bisa semua kan, jadi ada beberapa yang pakai cheating day. Baru setelah itu kelihatan dampaknya (pada kualitas suara) langsung sadar diri kami. Kalau sudah begitu jadi bisa mematuhi,” cerita Imam menggali memori saat-saat latihan. Namun sepertinya lebih banyak menggebu dan semangat daripada lelahnya jika melihat prestasinya kelak.

PSM MV UII menyanyikan beberapa lagu pada perhelatan 6th Singapore International Choral Festival itu. Imam, Mahasiswa Komunikasi FPSB UII angkatan 2017, itu adalah salah satu choir dengan posisi bass. Bersama beberapa rekannya PSM, membawakan beberapa lagu untuk berkompetisi di 6th Singapore International Choral Festival (SICF) 2019 pada 1-4 Agustus 2019. Tak tanggung-tanggung, Imam dan rekam PSM MV UII berhasil menggondol Golden Award dan Silver Award di SICF.

“Waktu pengumuman kita dapet Gold di situ rasanya campur aduk ingat semua hal waktu latihan dulu. Kadang dimarahin, terus harus jaga makanan demi suara yang bersih, dan kayak nggak nyangka juga dapat Gold,” cerita Imam. “Soalnya kita first timer dalam lomba ini dan standarnya lebih tinggi dari lomba-lomba yang pernah PSM ikutin sebelumnya.”

Bagi Imam, raihan PSM MV UII ini bukan dicapai dengan hanya berpangku tangan. Ada peluh di balik torehan hingga sampai ke negeri singa ini. Selain juga ada tangan dingin Irene Vista, sang pelatih yang berjasa menggembleng mereka. Imam, katanya, harus berlatih setiap hari. Tak hanya itu, “malam Minggu sama Senin ngamen, he-he-he,” kata Imam. Persiapannya bukan main-main karena peserta yang berangkat banyak dan butuh biaya tak sedikit, “kami harus ngamen itu buat nambah-nambah uang.” Ada juga PSM bikin jasa paid promote di akun Instagramnya untuk penggalangan dana. Tidak sehari dua hari, semua persiapan itu bahkan mencapai lima bulanan, kata Imam.

Lalu, bagaimana dengan kuliah dan aktivitas pribadi lain? “Kalau kendala pribadi sih paling agak susah bagi waktu kalau nugas (bikin tugas). Kan ilkom (Ilmu Komuniasi) banyak tugas kelompok jadi harus pinter bagi waktu dan kadang ada beberapa orang yang tidak ngemaklumin kesibukanku. Ya resiko,” ungkapnya. Akhirnya, ia mengakali kalau sedang tugas kelompok, ia bakal bagi waktu, dan mengusahakan berkontribusi walau tak bisa hadir. Ada juga beberapa yang nyeletuk, “Sibuk banget sih PSM muluk padahal nyanyi doang.” kata Imam menirukan.

Berlanjut ke Duit Cekak, Ngamen, dan Lagu Legenda (2)