Merintis Desa Wisata Edukatif Bambu Lestari Bulak Salak

communication department UII Commnunication for empowerment
Reading Time: 3 minutes

Merintis Desa Wisata Edukatif Bambu Lestari Bulak Salak oleh : Daffa Firdaus Najati, Fadilla Silvia Suhartono, Sifa Auliyasari, Aqsha Narariya Yani dan Roiyan Nangim.

Gerakan dan pengembangan desa secara mandiri sedang gencar dilakukan. Tak
ketinggalan salah satu desa wisata di daerah Sleman, Yogyakarta yang secara bertahap merintis
desanya sebagai desa wisata edukatif. Ialah Desa Wisata Edukatif Bambu Lestari yang terletak di
Dusun Bulaksalak, Wukirsari, Cangkringan, Sleman. Desa wisata ini berjarak sekitar 20 menit
dari Universitas Islam Indonesia (UII). Diresmikan oleh GKR Hemas pada 2018 lalu, desa ini
mengusung konsep utama edukasi terkait tanaman bambu. Berbagai tanaman bambu yang ada
tak hanya berasal dari Indonesia. Seperti bambu dari Jepang, Thailand, Timor dan sebagainya.
Terdapat beberapa fasilitas yang telah dibangun oleh warga setempat yang bisa dipergunakan,
selain areal bambu. Yaitu camping ground dan arena outbond.

Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman menyatakan bahwa desa ini masih termasuk dalam
desa wisata rintisan. Yang berarti, masih termasuk dalam desa wisata baru, yang didalamnya
baik struktur kepengelolaan, infrastruktur dan partisipasi masyarakat masih perlu untuk
ditingkatkan. Meski telah tercatat di Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, Bapak Eko Wiyarto,
selaku kepala pengelola desa wisata edukatif ini, mengatakan bahwa pihak pengelola belum
berani mendaftarkan desanya sebagai desa wisata. Dikarenakan kesiapan internal yang dimiliki
belum sepenuhnya siap. Khususnya partisipasi masyarakat dalam mengembangkan Desa Wisata
Edukatif Bambu Lestari Ini. Pendanaan dalam memperbaiki fasilitas yang ada pun masih sebatas
gotong–royong antar warga dan terkadang dibantu pula oleh mahasiswa dalam bentuk kegiatan
KKN.

Oleh karenanya, kelompok kami yang terdiri dari Daffa Firdaus Najati, Fadilla Silvia
Suhartono, Sifa Auliyasari, Aqsha Narariya Yani dan Roiyan Nangim, mahasiswa ilmu
komunikasi 2017, melalui mata kuliah Manajemen Program Non Komersil, melakukan
pembinaan dengan mengadakan beberapa program. Yaitu, pelatihan fotografi, pelatihan konten
web dan media sosial, sosialisasi sadar wisata, pembuatan papan nama bambu dan plang serta
pendampingan pembuatan AD/ART. Program ini menjadi media pembelajaran untuk kami,
dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat serta menyalurkan ilmu yang kami peroleh agar
bermanfaat untuk sesama. Durasi pelaksanaan program berlangsung pada bulan November 2019
hingga awal Desember 2019.

Program pertama dari kegiatan pemberdayaan ini adalah pelatihan fotografi yang mana
target sasaran dari kegiatan ini adalah pemuda dan pemudi daerah setempat. Kami berhasil
mengirim sebanyak 20 undangan dan berhasil mendatangkan 16 peserta. Pelatihan fotografi
berlangsung pada hari minggu tanggal 17 November 2019 pukul 10.30. Materi pelatihan yang
diberikan berkaitan dengan dasar-dasar fotografi, mengingat hal ini sangat penting untuk menjadi
salah satu langkah awal dalam mengembangkan desa wisata edukatif bambu lestari untuk lebih
dikenal wisatawan. Anggota dari KLIK18 menjadi pemateri dalam pelatihan ini dibantu dengan
volunteer dan seluruh anggota dari kelompok dalam praktek lapangannya di penghujung
pelatihan fotografi.

Program kedua dari kegiatan pemberdayaan ini adalah sosialisasi mengenai sadar wisata,
dengan target 36 undangan untuk warga setempat. Kegiatan ini dilakukan pada hari yang sama
setelah pelatihan web dan sosial media, namun kegiatan ini dilaksanakan pada malam hari karena
menyesuaikan jadwal audiens, yakni warga sekitar desa wisata bulak salak bambu lestari.
Pada sosialisasi kali ini dihadiri oleh beberapa volunteer dari teman-teman di UII.
Pemateri berasal dari founder ‘Omah Noto Plankton’ yaitu Mas Edi dan rekannya. Materi
sosialisasi yang diberikan lebih mengarah kepada bagaimana konsep dari sebuah desa wisata dan
bagaimana cara pengembangan untuk selanjutnya.

Mas Edi menjadikan Omah Noto Plankton sebagai contoh kepada warga Desa Bulak Salak bagaimana perjuangan membangun sebuah tempat wisata edukasi. Peran mitra yakni KBD adalah sebagai narahubung dan membantu jalannya kegiatan. Dari target undangan yang disebar, terdapat 33 bapak-bapak warga sekitar yang hadir. Peserta sangat antusias karena sosialisasi ini bersifat sharing.
Program selanjutnya yang kami berikan kepada desa wisata tersebut adalah pembuatan
plang dan papan informasi untuk bambu-bambu disana, penamaan tersebut bertujuan untuk
mengedukasi para wisatawan yang datang mengenai nama serta jenis bambu.

Lokasi bambu-bambu disana tidak jauh dari aula yang kami pakai untuk mengadakan pelatihan serta sosialisasi sadar wisata. Sehingga, untuk menemukan berbagai macam bambu tidak sulit karena area
tersebut menjadi satu kawasan yang dinamai ‘Bambu Track’. Pelaksanaan pembuatan plang dan
papan informasi tersebut berlangsung pada tanggal Minggu, 1 Desember 2019 dimulai pagi dan
selesai di sore hari.

Pembuatan plang tersebut cukup berjalan dengan lancar, apalagi dalam
prosesnya dibantu oleh beberapa volunteer dari ilmu komunikasi maupun volunteer dari luar.
Adapun papan informasi yang kami buat yakni menggunakan seng yang kemudian kami cat dan
tulis nama bambu serta jenisnya, yang nantinya papan tersebut diletakkan di bambu-bambu yang
sudah dikelompokkan.

—————————-

Mulai Januari hingga Maret 2020, kami akan mengunggah tulisan seri  tentang manajemen komunikasi non komersil di bawah supervisi Puji Hariyanti, S.I.Kom, M.I.Kom. Puji Hariyanti adalah dosen spesialis kajian klaster Komunikasi Pemberdayaan. Ia telah berkali-kali mendapatkan hibah-hibah dan riset soal pemberdayaan. Berikut ini adalah tulisan-tulisan mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi UII tahun angkatan 2017 ketika mengambil mata kuliah Manajemen Komunikasi Non Komersil. Tulisan diterbitkan dengan melewati proses bimbingan Puji Hariyanti dan tahap penyuntingan oleh A. Pambudi W.