Reading Time: < 1 minute

Pada Rabu, 12 Februari 2020, di Ruang Auditorium Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB), perwakilan dari beberapa perguruan tinggi islam di Indonesia melanjutkan gagasan mereka tentang pendirian asosiasi dosen ilmu komunikasi se-indonesia. Sebelumnya, dalam Kongres Asikopti di Universitas Islam Bandung 2019 lalu, beberapa dosen jurusan dan prodi Ilmu Komunikasi se-Indonesia mencetuskan perlunya asosiasi profesi untuk dosen-dosen ilmu komunikasi. Pada saat itu, lahir nama Asdikom, akronim dari Asosiasi Dosen Ilmu Komunikasi Indonesia.

Asdikom adalah gagasan yang muncul akibat beberapa kegelisahan. Selama ini asosiasi yang telah ada, seperti Aspikom dan Asikopti, tidak mengikat dosen melainkan perguruan tinggi dan program studi/ jurusan ilmu komunikasi. Efek dan manfaatnya berbeda. Keduanya pun bukan termasuk asosiasi profesi dosen. Mulanya, asosiasi ini diikuti oleh keanggotan personal bagi seluruh dosen yang menjadi anggota ASIKOPTI. Rencana ke depan, menurut Fajar Iqbal, sekretaris Asdikom, ke depan Asdikom tidak hanya terbatas pada dosen anggota Asikopti.

Asdikom yang diketuai oleh Ani Yuningsih, doktor dari Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung, memiliki potensi lebih besar dari asikopti. “Karena keanggotaannya bersifat personal akademisi dosen,” kata Fajar Iqbal yang juga dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Bono Setyo dan Fajar Iqbal – keduanya adalah dosen ilmu komunikasi UIN Sunan Kalijaga- dan seluruh peserta pada hari itu bersepakat bahwa asosiasi dosen ini akan fokus pada pada orientasi pengembangan dosen secara personal. Baik dalam keilmuan maupun kapasitas individu guna meraih karir terbaik anggota-anggotanya. Secara tidak langsung, itu akan meningkatkan kajian keilmuan dan manfaat di tengah masyarakat.