,

Kalfest Hub Seri #9 ‘Mendekatkan Sinema, Merayakan Suara Santri’ Hadirkan Ruang Dialog antara Film dan Pesantren

Kalfest Hub Seri #9 ‘Mendekatkan Sinema, Merayakan Suara Santri’ Hadirkan Ruang Dialog antara Film dan Pesantren

Tak sekadar menjadi medium hiburan, film juga menghadirkan ruang dialog yang mempertemukan berbagai perspektif. Gelaran Kaliurang Festival Hub Seri 9 kali ini mengambil tema “Mendekatkan Sinema, Merayakan Suara Santri” dan menggandeng Festival Film Santri (FFS) sebagai kolaborator pada 16 Juli 2026 di Ruang Audio Visual Ilmu Komunikasi UII.

Diawali dengan screening enam film yang telah dikurasi FFS, antara lain Saling Silang garapan Yazid Azhari, Akar Pohon karya Husni Fatihin, Gazeboan dari Tiara Navisa, Kita Gali Sampai Mati karya Labib Pratama, Baku Percaya karya Raynton Rare’a, dan Kar yang digarap oleh Shohipul Ma’ruf.

Usai screening, dilanjutkan diskusi Movie Talk dengan menghadirkan Agus Sam dan Yogi Ishabib selaku Direktur serta Direktur Program FFS. Dipandu oleh dosen Prodi Ilmu Komunikasi UII, Herman Felani, Movie Talk kali ini menjabarkan bagaimana proses membangun dan mempertahankan FFS.

Menurut Yogi Ishabib, FFS lahir dari proses panjang membangun ekosistem perfilman di lingkungan pesantren. Bukan soal menghasilkan karya, melainkan membangun keberlanjutan yang melibatkan santri di seluruh proses kreatif.

“Santri tidak hanya menjadi objek dalam film, tetapi juga perlu menjadi kurator dan produser yang menceritakan pengalaman mereka,” ucap Yogi Ishabib.

FFS memiliki dua kategori, yakni kategori santri dan remaja serta kategori umum. Yogi menambahkan bahwa tahun ini melibatkan tiga santri dalam proses kurasi film di FFS. Keterlibatan santri menjadi peran krusial dari perspektif khas kehidupan pesantren.

“Kemampuan teknis dapat dipelajari, tetapi pengalaman hidup dari santri menghadirkan sudut pandang autentik dan berbeda,” tambahnya.

Dalam praktik lapangan, produksi film di pesantren memiliki dinamika yang unik. Keterbatasan alat komunikasi membuat prosesnya berjalan lewat struktur pengasuhan di pesantren. Meski demikian, beberapa pesantren kita telah menginisiasi pembentukan tim media, sehingga beberapa santri terbiasa mengoperasikan kamera dan perangkat produksi audiovisual.

Agus Sam, sebagai Direktur, berharap FFS menjadi ruang baru bagi santri untuk menyampaikan keresahan lewat film. Baginya, festival tidak boleh berhenti hanya sebagai ajang pemutaran karya, melainkan menjadi tempat belajar yang berkelanjutan.

“FFS ini tidak sekadar perayaan film, tetapi proses belajar agar santri dan pesantren memiliki ruang untuk menyampaikan perspektifnya kepada publik,” ungkap Agus Sam.

Sebelum festival berlangsung, Agus Sam dan tim melakukan berbagai pendampingan dan pengembangan kapasitas kepada para santri yang disebut program pra-festival, yakni workshop pengembangan ide, produksi film, hingga kuratorial.

“Pendekatan ini dimulai dengan menggali persoalan yang benar-benar dirasakan santri di masing-masing pesantren. Agar karya yang dihasilkan berangkat dari pengalaman nyata mereka,” tambahnya.

Agus juga menekankan pentingnya membangun kolaborasi dengan para pengasuh pesantren. Menurutnya, dukungan pengasuh menjadi fondasi penting agar media digital dapat berkembang sebagai ruang dakwah dan ekspresi tanpa menghilangkan identitas pesantren.

Ke depan, Festival Film Santri berharap mampu melibatkan lebih banyak santri tidak hanya sebagai pembuat film, tetapi juga sebagai kurator, fasilitator, hingga koordinator di berbagai wilayah. Dengan demikian, ekosistem perfilman di pesantren dapat terus tumbuh secara mandiri dan berkelanjutan.

Melalui Movie Talk ini, kolaborasi antara UII dan Festival Film Santri menunjukkan bahwa sinema dapat menjadi medium yang menjembatani dunia akademik, komunitas kreatif, dan pesantren. Lebih dari sekadar memutar film, kegiatan ini membuka ruang dialog yang memungkinkan santri menyampaikan pengalaman, keresahan, dan gagasan mereka kepada publik melalui bahasa sinema.

https://festivalfilmsantri.org/