Tema mengenai kajian komunikasi dan kebudayaan hadir dalam Jurnal Komunikasi Volume 8, Nomor 1, Oktober 2013. Tulisan Adek Risma Dedees mengenai wacana kebangsaan dalam iklan sebuah produk minuman mengawali jurnal ini. Iklan tersebut memperlihatkan adanya bias-bias representasi etnisitas/suku bangsa dalam mewacanakan kebangsaan sebagai implikasi karena “dianggap” mayoritas atau dianggap “luhung”. Bias-bias ini, agaknya, terjadi karena masih adanya pelabelan terhadap etnisitas/suku bangsa tertentu. Pelabelan ini diproduksi, direproduksi, dijaga, dirawat, dan bahkan dilestarikan dalam berbagai pewacanaan.
 
Dalam analisisnya, Dedees menggunakan perspektif wacana kritis Ruth Wodak dkk. Analisis wacana kritis digunakan untuk menginterpretasi dan mengelaborasi wacana homo nationalis dalam pembentukan narasi ‘kebangsaan’. Artikel selanjutnya membahas stereotype kecantikan dalam film, yakni Mirror Mirror dan Snow White and The Huntsman. Keduanya merupakan film yang berbasis pada cerita ongeng yang sama yakni Snow White (Putri Salju). Dira Elita selaku penulis artikel ini menganalisis dua film itu menggunakan semiotika Roland Barthes. Dengan menerapkan konsep dua level signifikansi (denotasi dan konotasi), analisis fokus pada tiga elemen yakni tubuh, pakaian dan karakteristik. Elita menyimpulkan terdapat tiga mitos yang berhubungan dengan kecantikan. Pertama, kecantikan selalu berhubungan dengan tubuh manusia dan bagaimana tubuh tersebut ditampilkan. Kedua, selain berguna menutup tubuh, juga berfungsi untuk menunjukkan karakter dan identitas yang menonjol. Ketiga, karakteristik manusia menciptakan makna yang berhubungan dengan kecantikan.