Tren kajian komunikasi saat ini adalah komunikasi dengan paradigma kritis. Era kritis awalnya tumbuh mengiringi praktik komunikasi dan media yang cenderung bergerak tidak harmonis karena bersifat elitis dan tunduk pada dominasi kepentingan, terutama pragmatisme kepentingan modal dan kekuasaan; seperti rating, politisasi, pencitraan, dan ambisi mengejar iklan. Atas kesadaran itu muncul nuansa baru yang menyoroti anasir-anasir kemapanan praktik komunikasi dan media, baik pada tataran komunikator, saluran, hingga khalayak penerima pesan.
 
       Dari dimensi praksis juga bermunculan model-model komunikasi di luar jalur arus utama (mainstream) yang memicu semangat kritis dan perlawanan, seperti tradisi komunikasi yang berlabel “indie”, “alternatif”, atau “komunitas”. Jurnal komunikasi edisi ini mengangkat berbagai tulisan tentang komunikasi bernuansa kritik, dari soal cara pandang media terhadap isu-isu perempuan hingga tuntutan atas kesadaran sosial pelaku komunikasi bisnis terhadap lingkungannya.