Is it permissible to delay qadha fasting? It turns out there is a time limit

Qadha fasting is often considered trivial, so we delay it for too long and even forget about it. Qadha fasting is obligatory fasting to make up for missed Ramadan fasts due to valid reasons such as menstruation, post-natal bleeding, illness, and travelling, by fasting at another time outside of Ramadan.

We always think we have plenty of time until Ramadan comes around again. So, is it permissible to delay qadha fasting? Is there a time limit? Lutvia, a lecturer in the Communication Studies programme at UII, said that it is permissible to delay fasting as long as it is within the time frame before the next Ramadan arrives.

“You are allowed to delay your makeup fast as long as you complete them before the next Ramadan arrives. Especially if you have valid reasons like being sick, pregnant, breastfeeding, or physically struggling,” said Lutviah.

Islam is a religion that provides ease, not hardship. In certain conditions and with valid reasons such as pregnancy, illness, and breastfeeding, it is impossible to force someone to fast, or for reasons that threaten their health. However, if someone deliberately delays without a valid reason until the next Ramadan arrives, they are still required to make up their fast or pay fidyah by feeding people in need.

“If someone intentionally delays without a valid excuse until the next Ramadan comes, most scholars say they still have to make up the fast and also pay fidyah, which means feeding a person in need,” she added.

However, delaying too long is not the right choice. It should be noted that making up for fasting is not a punishment, but an opportunity from Allah for His people to complete their missed worship.

One simple tip is to set a reminder on your mobile phone or invite friends to fast together to boost your enthusiasm. “So don’t wait for the perfect mood. The sooner you start, the lighter your heart will feel. And if you know a friend who keeps saying, “I’ll do it later,” maybe send this to them,” she concluded.

konten sedekah

Dalam Islam, salah satu ajaran penting yang menekankan keikhlasan dan kepedulian sosial adalah sedekah. Sedekah tidak hanya berupa materi saja, sedekah juga bisa berupa ilmu, bahkan sekecil senyuman. Pahala yang didapat seperti menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api dan juga tidak mengurangi harta, justru menggantinya dengan rezeki yang berlipat ganda.

Di tengah kehidupan modern yang cenderung individualis, sedekah menjadi sarana mempererat solidaritas dan menumbuhkan empati. Namun, kadang-kadang rasa empati ini dibungkus oleh hal lain agar mendapatkan empati dari orang lain lagi. Contohnya dijadikan konten dalam media sosial.

Secara hukum dan niat tertulis dalam QS. Al-Baqarah ayat 271 yang artinya “menampakkan sedekah itu baik, namun menyembunyikannya (memberi diam-diam) kepada orang fakir lebih baik dan dapat menghapus kesalahan”. Senada dengan pendapat Ratna Permata Sari, dosen Prodi Ilmu Komunikasi UII, ia fokus pada esensi kebaikannya. 

“Baiknya fokus pada esensi kegiatan bersedekah. Sedekah ke orang lain itu niatnya baik. Jadi kita lihat bahwa melakukan kebaikan itu adalah hal yang baik,” ucapnya.

Sedekah menjadi hal yang mulia jika niatnya hanya untuk mengharap ridho Allah SWT. Ditambah lagi jika membuat orang lain menjadi terinspirasi untuk melakukan ibadah yang serupa. Fokus ibadah dan mendapat pahala menjadi berkali lipat. “Kalaupun pada akhirnya dikontenkan ya nggak apa-apa. Kita bisa lihat setelah dikontenkan, dan orang lain melihat, jadi terinspirasi, jadi pengen melakukan sedekah berarti juga termasuk menyebarkan kebaikan”, pungkas Ratna. 

Baginya, esensi niat dan fokus kepada kebaikan menjadi hal yang prinsip dalam beribadah. Sering kali juga banyak orang terlalu fokus untuk berkomentar tanpa berkaca apakah sudah melakukan kebaikan atau belum. “Disini kita fokus saja kepada esensi memberikan sedekah ke orang lain dan bukan sekedar berfokus terhadap komentar saja”, tutup Ratna.

Watching ‘Mukbang’ While Fasting: Is it Allowed or Not?

 

When fasting, we often scroll through various social media platforms. Our algorithms are unconsciously filled with content about breaking the fast, regional specialities, and even “mukbang” content. Everything looks tempting and appetising, and even just looking at the photos and videos makes us feel hungry. So, does watching “mukbang” content invalidate the fast?

According to a podcast by UII Communication Science lecturer Lutviah, watching “mukbang” content does not invalidate the fast. According to fiqh provisions, fasting is invalidated by eating, drinking, or anything entering the body.

“The answer is no. Simply watching mukbang content or looking at pictures of food does not break your fast. Your fast is only broken by things like eating, drinking, or anything that physically enters the body in a way that invalidates the fast,” she said.

Although it does not invalidate the fast legally, watching continuously can make fasting feel difficult and make us want to eat, as well as being emotionally sensitive. This is fasting: besides enduring hunger and thirst, it also trains us to control ourselves, our patience, and our thoughts.

To ensure a quality fasting experience, one can engage in activities such as listening to the recitation of the Qur’an or watching calming lectures.

“So if mukbang makes you extra hungry or cranky, maybe switch to something lighter, watch reminders, listen to the Qur’an, or just scroll through content that doesn’t test your patience too much,” she concluded.

Kaum Medioker, in this Economy

Medioker/ mediocre

of moderate or low quality, value, ability, or performance ordinaryso-so

Salah satu hal yang menakjubkan tentang kata “mediocre” adalah sejauh mana kata tersebut mempertahankan maknanya selama lebih dari empat abad penggunaan yang terus-menerus.

Medioker di Indonesia?

Fakta hirarkis demografi sosio ekonomi: satu dari lima orang di Indonesia berada di kelas menengah. Data world bank 53,6 juta (20,05 %)

Sebanarnya bagi, karena kelompok menengah ini diharapkan mampu naik menjadi kelompok ke atas. Sayangnya justru kelas menengah terabaikan secara sosial, ekonomi, maupun politik. (terbelenggu dalam kapabilitas dalam mencapai kesejahteraan)

Selama ini tidak ada program khusus yang menyasar kelas menengah. Lebih banyak program atau kebijakan yang secara langsung menyasar kelas atas dan bawah.

Dua akademisi Italia, Gloria Origgi, a researcher and philosopher at the Jean Nicod Institute in Paris, and Diego Gambetta, a professor of sociology at Oxford University.

pandangan berbeda tentang mediokritas dan kenapa banyak orang memilih hidup yang “biasa-biasa saja”. Dua akademisi Italia, Gloria Origgi dan Diego Gambetta, memperkenalkan konsep “kakonomics” — situasi di mana kualitas rendah atau mediokritas sengaja atau tidak sengaja dipertahankan sebagai bentuk perlawanan terhadap tekanan keunggulan dan efisiensi yang dianggap membebani.

 

 

 

Jalan kaki di Jepang ternyata bukan hanya hobi melainkan gaya hidup dan budaya. Sebaliknya dengan Indonesia, data dari Stanford University mengungkap bahwa Indonesia menjadi negara dengan tingkat aktivitas jalan kaki terendah di dunia. Rata-rata langkah harian masyarakat Indonesia hanya mencapai 3.531 langkah, lebih rendah dibandingkan Malaysia (3.963 langkah) dan Filipina (4.008 langkah). Alasannya tentu terkait dengan kurangnya infrastruktur di Indonesia yang dianggap kurang memadai.

Namun, belakangan aktivitas urban walking cukup banyak dilakukan di Indonesia. Beberapa komunitas bermunculan di Indonesia. Uniknya, dengan melakukan aktivitas ini pelaku pejalan kaki akan berinteraksi dengan kota. Memangnya kota mampu berinteraksi?

Beberapa metode urban walking dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan, seperti mapping walk, flânerie, psychogeography, participatory walking.

Dalam kajian Ilmu Komunikasi, interaksi dengan kota dapat dipahami melalu teori interaksional simbolik Herbert Blumer. Lainnya, soal metode sensori, hingga komunikasi lingkungan menjadikan jalan kaki menjadi lebih autentik dan memperkaya pengalaman sosial.

Anti-library Merayakan Rasa Ingin Tahu dan Kerendahan Hati

Podcast ini menentang soal kesombongan siapa paling tahu, sebaliknya semakin banyak buku yang dibaca ia semakin merasa tak mengerti apa-apa.Kerendahan hati ini dijelaskan oleh Umberto Eco, sosok intelektual sekaligus penulis Italia. Ia dikenal dengan perpustakaan dan koleksi bukunya.

Baginya, buku layaknya obat yang harus tersedia di rumah. Buku sebagai alat penelitian dan eksplorasi pengetahun memunculkan konsep Anti-Library. Anti-library adalah koleksi buku yang belum dibaca dan justru inilah yang menjadi nilai utamanya. Buku-buku yang belum dibaca berfungsi sebagai pengingat akan luasnya pengetahuan yang belum kita kuasai.

Semakin banyak kita tahu, semakin kita sadar akan banyaknya hal yang belum kita ketahui. Dengan kata lain, anti-library adalah simbol kerendahan hati intelektual dan rasa ingin tahu yang tak pernah padam.

Productive Procrastination Menunda Tapi Tetap Produktif, Apa Bisa

Berdasarkan devinis productive procrastination adalah teknik menunda tugas utama dengan mengerjakan tugas lain yang juga bermanfaat, meskipun bukan prioritas utama. Misalnya, saat kita menunda menyelesaikan laporan penting, kita bisa melakukan aktivitas seperti membaca artikel terkait pekerjaan, merapikan meja kerja, atau belajar hal baru yang berguna untuk pengembangan diri.

Konsep ini diperkenalkan oleh John Perry pada tahun 1995 sebagai “structured procrastination,” yaitu mengubah kebiasaan menunda menjadi sesuatu yang tetap produktif meski bukan tugas utama. Productive procrastination bisa membantu mengurangi stres sementara dan membuat seseorang merasa lebih baik karena tetap melakukan sesuatu yang bermanfaat, namun jika dilakukan terus-menerus dapat menyebabkan pekerjaan prioritas terbengkalai dan menimbulkan masalah baru seperti stres dan kualitas kerja menurun.

Gen Z dan Milenial

Setuju tidak bahwa tantangan Milenial dan Gen Z tak main-main? Di luar soal privilege yang dimiliki, bagaimanapun tantangannya tak bisa dianggap sepele. Berbagai stereotip negatif mulai dari lemahnya mental hingga sumber masalah sosial tak henti-hentinya bergulir.

Data BPS menunjukkan jumlah Milenial dan Gen Z jika digabungkan adalah 53,81 persen. Jumlah ini ternyata menjadi bahan eksploitasi penuh hiperbola, Lika Liku Zilenial dari The Conversation menyebut dualitas generasi ini. Mereka disanjung tapi juga disangsikan. Mulai dari dimanfaatkan suaranya demi popularitas politisi, tapi ujungnya disalahkan publik atas sumber kegagalan pemerintah.

Tak berhenti di sana, ada persoalan rumit untuk bertahan hidup. Soal karier, banyak yang cukup ideal. Simak fakta berikut.

Dinamika perkembangan artificial intelligence (AI) mengalami percepatan yang cukup signifikan. Dengan prompt yang tepat AI mampu menghasilkan gambar, viseo, hingga musik. Akankah hal tersebut berpotensi mengancam pekerjaan Gen Z di Industri kreatif?

Beberapa isu yang disoroti antara lain:

  1. Potensi penggantian pekerjaan oleh AI
  2. Kesenjangan keterampilan digital
  3. pentingnya kolaborasi manusia dan AI
  4. Dampak etis dan sosial
  5. Perlunya pendidikan dan pelatihan

Selamat mendengarkan Comms!

Slow living

Deretan influencer mendeskripsikan slow living di Yogyakarta begitu menyenangkan dan nyaman. Slow living yang ditampilkan selalu mengacu pada wisata dan kuliner. Lingkungan yang menenangkan, masyarakat dengan budaya jawa yang kental.

Adegannya selalu sama, menggunakan outfit skena meromantisasi suasana dengan narasi-narasi bahwa tak ada tempat lain yang lebih nyaman dari Jogja. Slow living yang ditampilkan adalah kesenangan dan santai-santai menjalani hidup. Tanpa ada narasi ekonomi sosial di baliknya.

slow living adalah pola pikir bagaimana kita menyusun gaya hidup yang lebih bermakna, sejalan denga napa yang paling kita hargai dalam hidup. Melakukan segala sesuatu dengan kecepatan yang tepat, fokus melakukan sesuatu yang lebih baik, memprioritaskan untuk hal-hal yang penting. (Slow Living LDN)