Konten Sedekah: Riya atau Justru Menginspirasi?

konten sedekah

Dalam Islam, salah satu ajaran penting yang menekankan keikhlasan dan kepedulian sosial adalah sedekah. Sedekah tidak hanya berupa materi saja, sedekah juga bisa berupa ilmu, bahkan sekecil senyuman. Pahala yang didapat seperti menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api dan juga tidak mengurangi harta, justru menggantinya dengan rezeki yang berlipat ganda.

Di tengah kehidupan modern yang cenderung individualis, sedekah menjadi sarana mempererat solidaritas dan menumbuhkan empati. Namun, kadang-kadang rasa empati ini dibungkus oleh hal lain agar mendapatkan empati dari orang lain lagi. Contohnya dijadikan konten dalam media sosial.

Secara hukum dan niat tertulis dalam QS. Al-Baqarah ayat 271 yang artinya “menampakkan sedekah itu baik, namun menyembunyikannya (memberi diam-diam) kepada orang fakir lebih baik dan dapat menghapus kesalahan”. Senada dengan pendapat Ratna Permata Sari, dosen Prodi Ilmu Komunikasi UII, ia fokus pada esensi kebaikannya. 

“Baiknya fokus pada esensi kegiatan bersedekah. Sedekah ke orang lain itu niatnya baik. Jadi kita lihat bahwa melakukan kebaikan itu adalah hal yang baik,” ucapnya.

Sedekah menjadi hal yang mulia jika niatnya hanya untuk mengharap ridho Allah SWT. Ditambah lagi jika membuat orang lain menjadi terinspirasi untuk melakukan ibadah yang serupa. Fokus ibadah dan mendapat pahala menjadi berkali lipat. “Kalaupun pada akhirnya dikontenkan ya nggak apa-apa. Kita bisa lihat setelah dikontenkan, dan orang lain melihat, jadi terinspirasi, jadi pengen melakukan sedekah berarti juga termasuk menyebarkan kebaikan”, pungkas Ratna. 

Baginya, esensi niat dan fokus kepada kebaikan menjadi hal yang prinsip dalam beribadah. Sering kali juga banyak orang terlalu fokus untuk berkomentar tanpa berkaca apakah sudah melakukan kebaikan atau belum. “Disini kita fokus saja kepada esensi memberikan sedekah ke orang lain dan bukan sekedar berfokus terhadap komentar saja”, tutup Ratna.