Posts

Reading Time: < 1 minute
0Days0Hours

Forum Amir Effendi Siregar – Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia menggelar:

Serial Bincang Sejarah Komunikasi (Sesi 14)

Topik:

Hoedjin Tjamboek Berdoeri: Sejarah Mikro sebagai Pendekatan Membaca Koran

Pembicara:

Eunike Gloria Setiadarma

Sedang menempuh studi doktoral di Departemen Sejarah di Northwestern University. Tertarik meneliti sejarah intelektual dan sejarah sosial pembangunan. Sebelumnya memperoleh pendidikan master Pembangunan Internasional dari University of Manchester.

Jadwal:
Jumat, 17 Oktober 2020
Pukul 09:30 WIB
Via Zoom

atau

Registrasi:

Reading Time: 3 minutes

Sekilas, ringkasan dari Forum AES #1 adalah sejarah jurnalistik penting diajarkan di Jurusan Jurnalistik dan Ilmu Komunikasi. Luthfi Adam, akademisi lulusan doktoral Nortwestern University, pembicara Forum Amir Effendi Siregar (Forum AES) Sesi Pertama mengatakan itu pada 28 Juni 2020 di sebuah video konverensi Zoom bersama Pusat Studi dan Dokumentasi Media Alternatif NADIM Prodi Ilmu Komunikasi UII. Ia adalah pembicara pertama dalam Forum AES pertama yang tahun ini mengangkat tema Sejarah Bincang Sejarah Komunikasi.

Holy Rafika Dhona, Kepala PSDM Nadim Komunikasi UII, juga sebagai moderator, mengatakan ia dan tim memilih Luthfi Adam., Ph.d sebagai narasumber karena ia memiliki latar belakang sejarah dan komunikasi sekaligus. “dan masih hangat ilmunya karena baru lulus di Mei 2020. Ia juga pemenang disertasi di Departemen Sejarah di Nortwestern University, kampus tempatnya meraih gelar doktor” kata Holy Rafika, Dosen di Prodi Ilmu Komunikasi yang spesialisasinya adalah klaster kajian Komunikasi Geografi.

Holy juga menjelaskan mengapa forum ini disebut Forum AES.  Forum ini dibentuk oleh prodi untuk membicarakan tentang ide atau gagasan  hal ihwal komunikasi khususnya. “Nama ini jadi pengingat atas pendiri prodi kami dan juga dimiliki oleh semua insan pers di indonesia.”

Luthfi Adam mengatakan dalam pemaparannya di mula, event ini juga rencananya akan dijadikan buku. “jadi mungkin untuk ke depannya, untuk metode untuk riset komunikasi ini lebih detil saya tulis dalam bentuk esai. Sehingga bisa lebih jelas gambarannya.”

Mengapa Riset Sejarah Komunikasi (Jurnalistik) Penting?

Pada kesempatan ini, mula-mula Luthfi Adam menjelaskan apa saja yang akan ia jelaskan pada sesi ini. “Saya akan membahasa metode sejarah sebagai riset komunikasi,” katanya. “Sebelumnya disclaimer ini,  saya bukan lagi scholar ilmu komunikasi. Pendidikan terakhir saya adalah sejarah. Jadi, saya mewakili disiplin sejarah, bukan komunikasi,” sambungnya. Luthfi mengatakan, ia akan membagikan sebuah metode sejarah. Namun, karena ia memiliki latar belakang ilmu komunikasi, ia bisa memberikan gambaran mengenai bagaimana mengadopsi metode penelitian sejarah untuk riset komunikasi.

Ada beberapa pertanyaan perlu dijawab ketika berdiskusi soal sejarah komunikasi. Pertama, mengapa penting meriset sejarah komunikasi. Kemudian, bagaimana meneliti sejarah. Lalu, bagaimana komunikasi mengadopsi metode sejarah untuk riset?

Luthfi Adam menjelaskan urgensi sejarah komunikasi dengan menceritakan flash back beberapa belas tahun yang lalu ketika media 2005 dan 2006 ia menyusun skripsi. Tema skripsi yang ia angkat adalah soal dorongan kuatnya menulis sejarah jurnalistik. Ia membuka banyak sumber, terutama, tentang pengalaman dan cerita perjalanan jurnalistik Tirto Adi Soerjo dan akhirnya diteruskan oleh Mas Marco Kartodikromo sebagi jurnalis pemula. Ia terinspirasi oleh Tetralogi Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. “Dulu saya ketika menyusun skripsi saya terdorong untuk menyusun sejarah jurnalistik. Saya terdorong dengan tetralogi bumi manusia yang menurut saya adalah sejarah pers,” jelas Luthfi.

Menurut Luthfi, dalam Tetralogi Bumi Manusia inilah tersemat peran jurnalis dalam sebuah era periode yang dikenal dengan era kebangkita nasionalisme.

“Saya penasaran dengan tokoh ini, Mas Marco. Lalu saya menulis skripsi mengenai sejarah Mas Marco Kartodikromo.” Lalu ia mengemukakan pertanyaan, “bagaimana saya menulis sejarah di jurusan komunikasi di Fikom UNPAD?”

Mas Marco dan Sejarah Jurnalistik

Saat itu, tutur Luthfi, ia menggunakan semata-mata insting yang digunakan dalam proses kerja jurnalsitik. “Pakai insting wartawan,” katanya. Bagaimana waratawan bekerja, memetakan topik, mencari data, sumber tertulis, mewawancari sumber, “dan saya plek melakukan itu dan mengambil data. Saya pergi ke Perpustakaan Nasional. Di sana ternyata surat kabar yang didirikan yang diasuh Mas Marco itu cukup lengkap: Doenia Bergerak. termasuk tulisan Mas Marco dari koran lain berhasil saya kumpulkan,” kenangnya.

“Sampai saya bawa tulisan itu dan saya selalu mendapat insight dan topik penelitian dari situ. Itu juga yang membuat saya berhasil mendapatkan beasiswa sejarah. Kalau saya bisa dapat beasiswa riset sejarah doktoral, bukankah yang kemarin saya  pakai insting wartawan itu adalah metode sejarah berarti? tekniknya sebenarnya tidak berbeda kan,” pikirnya kemudian.

“Saya ingin katakan, mengapa saya bilang penting meneliti sejarah Mas Marco, kesulitan ketika saya dulu mempelajari teori jurnalistik adalah mengonstekstualisasikan nilai-nilai yang diajarkan dosen-dosen saya,” jelasnya. “Tapi kurang lebih apa yang saya dapat di ruang kelas itu ilustrasinya tidak detil dan tidak membumi. Itu membuat saya merasa sejarah jurnalistik adalah matakuliah penting dan diajarkan di jurusan jurnalistik,” simpul Luthfi.

“Karena menurut saya, walaupun sejarah adalah ilmu yang sangat praktis, tapi kalau digali, sejarah jurnalistik itu sangat kaya dan bisa membantu scholar jurnalistik untuk mengembangkan ilmu jurnalistik, bagaimana kita mau mengembangkan ilmu jurnalistik, nilai-nilai jurnalistik, teknik-teknis jurnalistik, kalau kita tidak memahami sejarah perkembangan jurnalistik tersebut,” ungkap Luthfi memungkasi cerita.

Baca juga Meriset Komunikasi dengan Metode Penelitian Sejarah

Untuk melihat video dokumentasi:
Reading Time: 4 minutes

At a glance, the summary of the AES # 1 Forum is: Journalistic History Important To Taught in the Department of Journalism and Communication Studies. Lutfi Adam, scholar graduate from Northwestern University, speaker of the Amir Effendi Siregar Forum (Forum AES) said that. This First Session held on June 28, 2020 in a Zoom video conference by the Center for Study and Alternative Media Documentation NADIM of Communication Science Department at Univeersitas Islam Indonesia. He was the first speaker at the first AES Forum this year with the theme: History of Communication.

Holy Rafika Dhona is the Head of PSDMA Nadim Communication Department at UII. He, as well as the moderator, said he and the team chose Lutfi Adam, Ph.D as the guest speaker with many reason. First, because he had a history and communication background as well. “And his knowledge is still new because he just graduated in May 2020. He is also the winner of a dissertation prize at the Department of History at Northwestern University. It was the campus where he earned his doctorate,” said Holy Rafika, Lecturer in Communication Science Department. Holy also have a specialty in the field of Geographic Communication studies.

Rafika also explained why this forum was called the AES Forum. This forum was formed by Communication Science Department of UII to talk about ideas or spirit about communication in particular. “This name is a reminder of the founder of our department. And he is also owned by all members of the press in Indonesia.”

Historical Method for Communication Research

Lutfi Adam said in his presentation at the beginning, this event was also planned to be made into a book. “So maybe in the future, I will write a method for communication research. It should be in more detail in the form of an essay. So that the picture can be clearer.”

On this occasion, first, Lutfi Adam explained what he would explain in this session. “I will discuss the historical method as communication research,” he said. “Before begining this session, there is any disclaimer: I was no longer a scholar of communication science. My last education was history. So, I represent the discipline of history, not communication,” he continued. Lutfi said, he would share a historical method. However, he can provide an overview of how to adopt historical research methods for communication research. It is because he has a background in communication and media studies.

Then, we neet to answer many question when discussing the history of communication. First, why is it important to research the history of communication. Then, how about researching history. Then, how does communication adopt the historical method for research?

Mas Marco and Journalistic History

Hence, Lutfi Adam also explained the urgency of the history of communication by recounting flash back a few years ago when in the 2005 and 2006 he composed a undergraduated thesis. The theme of the undergraduated thesis he raised was a matter of his strong urge to write journalistic history. He read many sources, especially, about the experiences and stories of journalism journey of Tirto Adi Soerjo. And at least, He finally passed on Mas Marco Kartodikromo as an early journalist.

Pramoedya Ananta Toer’s Tetralogy Book very inspiring Luthfi. That the book titled is This Earth of Mankind. “In the past, when I was composing my research, I was concerning to compose journalistic history. Tetralogy of This Earth of Mankind was inspiring me. And in my opinion was the history of the press,” Luthfi explained.

According to Lutfi, in this Tetralogy Book of This Earth of Mankind, the role of journalists is embedded in an era known as the era of nationalism.

“I am curious about this character, Mas Marco. Then I wrote a thesis on the history of Mas Marco Kartodikromo.” Then he raised the question, “how do I write history in the communication department  Faculty?”

Why is Journalistic History Important To Taught in the Department of Journalism and Communication Studies ?

At that time, said Lutfi, he used solely the instincts used in the work of journalism. “Use the journalist’s instincts,” he said. How the journalists worked, mapped out topics, searched for data, written sources, interviewed sources, “and I plotted to do that and retrieve data. I went to the National Library. Read many, including the writings of Mas Marco from other newspapers I managed to collect,” he recalled.

“Until I brought the writing and I always got insights and research topics from there. That also made me succeed in getting a historical scholarship. If I could get a doctoral research history scholarship, wasn’t that what I used yesterday as the journalist’s instincts is a meaningful historical method? actually, it is no different,” he thought later.

“What I want to say is, why I say it is important to examine the history of Mas Marco? The difficulty when I first studied journalistic theory was to contextualize the values ​​taught by my lecturers,” he explained. “But more or less what I got in the classroom, the illustrations are not detailed and not down to earth. That makes me feel journalistic history is an important course. So it should taught in the journalism department,” concluded Luthfi.

“Because in my opinion, even though history is a very practical science, but when explored, journalistic history is very rich. It also can help journalistic scholars to develop journalism. We can not develop journalism, journalistic values, and journalistic techniques, if we do not understand the history of journalistic development,” said Lutfi to complete the story.

Also read Research on Communication with Historical Research Methods