• Office: +62-274-898444 ext. 3267

Tonny Trimarsanto: “Membuat film dokumenter tidak perlu uang yang banyak, tapi semangat yang banyak.”

Email Print

 

Eksistensi Film dokumenter tidak sefamiliar film fiksi pada umumnya. Film dokumenter berada di wilayah yang jarang sekali diperbincangkan. Meskipun begitu saat ini film dokumenter tidak hanya menjadikan stasiun televisi saja sebagai tempat untuk penayangannya. Belakangan sudah mulai banyak platform yang bisa menjadi tempat untuk film dokumenter dalam menunjukkan dirinya.

Perlu diketahui juga bahwa secara rating, dokumenter di Industri nasional sangat rendah. Pada  industry film nasional, film dokumenter ada di pinggiran karena tidak populer. Film dokumenter memiliki penonton yang spesifik. Hal itu lah yang dirasakan oleh Tonny Trimarsanto sebagai seorang sineas dokumenter yang disampaikannya dalam Diskusi Bulanan PSDMA Nadim Komunikasi UII dengan tema Seluk Beluk Industri Dokumenter internasional yang digelar pada Kamis, 19 Juli 2018 lalu di RAV Prodi ilmu Komunikasi UII. Berangkat dari pengalamannya Banyak karya dari Tonny yang tidak di tayang di Nasional, tetapi mampu untuk tayang di region internasional.

Tonny juga menyebutkan bahwa sebenarnya film documenter memiliki lahan yang luas. Karena dokumenter bisa ditargetkan pada suatu region. “Membuat film dokumenter tidak perlu uang yang banyak, tapi semangat yang banyak,” jelas Tonny (19/7). Butuh kesabaran dan ketekunan dalam memproduksi documenter.  Perlu pertimbangan alangkah lebih baik film untuk diproduksi ialah untuk yang mendekatkan antara isu dengan penonton. Selain itu juga perlu memperhatikan Timing yang tepat dalam menentukan pengeluaran film.

 

Penulis: Risky Wahyudi

 

 

PENGUMUMAN PENYELESAIAN STUDI

Email Print

Pengumuman Yudisium Juni 2018

Email Print

Pengumuman Wisuda Periode VI tahun 2017/2018

Email Print

MEDIA CAMP 2018 Diharapkan Menjadi Pemikiran Baru Bagi Mahasiswa dalam Memproduksi Produk Media

Email Print

Terdapat enam kelas pelatihan yang ditawarkan oleh Prodi Ilmu Komunikasi UII, di antaranya pelatihan kelas Film Dokumenter, Foto Story, Penulisan Esai, Produksi Program Radio, Penulisan Feature Berita, dan juga keorganisasian. Masing-maing peserta diwajibkan memilih salah satu dari opsi yang tersedia agar bisa lebih fokus untuk mempelajarinya.  Selama di camp tiap-tiap peserta diberikan materi dan didampingi oleh  fasilitatornya masing yang terdiri atas Dosen, Staf, Alumni UII, dan juga mahasiswa tingkat akhir yang berkompeten di bidangnya.

Keseriusan Media Camp 2018 juga terlihat tiap-tiap kelasnya pun juga turut menghadirkan Guest Speaker yang professional di bidangnya sebagai pemateri di salah satu sesinya. Seperti Anggertimur (fotografer freelance) untuk kelas Foto Story, Yohanes Aditya Sanjaya (Sineas Dokumenter) untuk kelas Film Dokumenter, Ella Arlika ( Program Director Geronimo FM) untuk kelas Produksi Program Radio,  Fahri Salam (Editor Tirto.id) untuk kelas Penulisan Feature Berita, Muhidin M.Dahlan (Esais Radiobuku) untuk kelas Penulisan Esai, dan juga Budhi Hermanto (Fasilitator lapangan – MPM Yogyakarta) untuk kelas keorganisasian.

Melalui Media Camp 2018 ini diharapkan mahasiswa mempunyai pemikiran baru yang lebih fresh dalam memproduksi produk media. Muzayin Nazaruddin, Kaprodi Ilmu Komunikasi UII mengharapkan kedepannya mahasiswa Komunikasi UII dalam memproduksi suatu karya memiliki konsep yang matang dan pesan yang kuat. “Yang terpenting bukanlah teknis, tapi pesan yang disampaikan,” ungkapnya dalam Sesi Orientasi dan Perspektif Produksi Media  (4/5/18).

Kegiatan ini ditutup dengan Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang mana pesertanya melakukan diskusi bersama fasilitatornya masing-masing. Setelah workshop ini, peserta diminta untuk menggarap proyek yang sebenarnya dengan target sasaran untuk diikutkan lomba tingkat nasional dan juga dilakukan eksibisi terbuka untuk masyarakat umum.  Selama proses penggarapan proyeknya pun peserta masih didamping oleh fasilitatornya masing-masing untuk melakukan mentoring.

 

Penulis: Risky Wahyudi

Foto: Andi Zulham Jaya