• Office: +62-274-898444 ext. 3267

Marhaban Ya Ramadhan: Selamat Menunaikan Ibadah Puasa 1439H

Email Print

Media Camp 2018: Pentingnya Orientasi Program dan Perspektif dalam Produksi Media

Email Print

Ketika melakukan aktivitas produksi media, tentu harus memiliki orientasi program dan perspektif yang jelas. Keduanya harus memiliki kedudukan yang kuat supaya mampu menghasilkan karya-karya yang berkualitas dan tepat sasaran. Adanya kedua hal tersebut mampu memberikan pandangan jelas tentang seperti apa idealnya paket produksi media yang harus dihasilkan.

Prodi Ilmu komunikasi UII mencoba menerapkan pemahaman pentingnya orientasi program dan perspektif dalam produksi media kepada mahasiswa melalui Media Camp 2018 yang digelar pada tanggal 4-6 Mei 2018 lalu. Kegiatan tersebut diikuti lebih dari 60 orang peserta yang merupakan perwakilan dari HIMAKOM dan Klub (KLIK18, KOMPOR.KOM, GALAXY, RedAksi, dan DISPENSI) yang ada di Komunikasi UII. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari tersebut digelar di Hotel Pandanaran, Jalan Prawirotaman, Yogyakarta. Media Camp 2018 merupakan kegiatan workshop yang digelar untuk mewadahi mahasiswa mempelajari materi seputar produksi media, di antaranya Film Dokumenter, Penulisan Esai, Penulisan Feature Berita, Foto Story,  Program Acara Radio dan juga kelas organisasi yang diperuntukkan khusus HIMAKOM dan inti klub.

Pada sesi pertama peserta diberikan materi ‘Orientasi Program dan Perspektif dalam Produksi Media’ yang diikuti secara umum oleh peserta yang dimulai sekitar pukul 14:00 WIB. Kaprodi Ilmu Komunikasi UII, Muzayin Nazaruudin, selaku pemateri pada sesi tersebut membuka sesi materi dengan membandingkan foto yang dimuat di media surat kabar dengan foto dari Relawan dalam satu momen yang sama, yaitu erupsi merapi pada tahun 2010 silam. Ia menjelaskan bahwa setiap suatu peristiwa bisa dikisahkan dengan berbagai perspektif. Ia mengungkapkan dalam hal ini perlu pesan yang mesti menjadi perhatian dalam memproduksi karya. “Yang terpenting bukanlah terkait teknis, tapi pesan yang disampaikan,” ungkapnya (4/5/18).

“Pada hakikatnya suatu karya tidak ada yang objektif. Dipastikan selalu berangkat dari nilai yang diyakini,” jelasnya .

Muzayin juga menegaskan bahwa setiap karya yang bagus dipastikan mendapatkan pemahaman masalah yang bagus. Sehingga pada peltihan ini dimulai dari bagaimana cara melihat masalah. Sederhanya bisa dimulai dari hal-hal yang sepele.

“Dimulai dengan bagaimana cara mengidntifikasi dan memahami masalah, yaitu dimulai dengan observasi.,” tambahnya.

Setelah selesai materi pertama tersebut, peserta dipecah menjadi 12 kelompok untuk melakukan observasi. Tiap-tiap kelompok diminta untuk mengamati masalah, dan menggali informasi lebih dalam tentang isu yang diamati tersebut. Kemudian pada malam harinya masing-masing kelompok melakukan analisis sosial dengan fasilitatornya untuk mendiskusikan temuan lapangan yang telah didapatkan.

 

Penulis: Risky Wahyudi

Diskusi dan Bedah Buku “Apa Pilihanmu? Pengendalian Diri atau Pengendalian Negara”

Email Print

Prodi ilmu komunikasi menggelar Bedah Buku: “Apa Pilihanmu? Pengendalian Diri atau Pengendalian Negara”  di RAV Komunikasi lantai 3, Gedung Program Studi Ilmu Komunikasi UII. Bedah buku tersebut digelar pada Rabu, 27 April 2018. Turut mengundang Rofi Uddarojat dari SuaraKebebasan.org  sebagai narasumber dalam acara tersebut.

Buku “Apa Pilihanmu? Pengendalian Diri atau Pengendalian Negara” merupakan kumpulan tulisan dari beragam pakar, mulai dari ekonomi, sosial, dan politik yang  dieditori oleh Tom G. Palmer. Buku ini mencoba mecoba menjelaskan permasalahan sosial dengan pendekatan baru. Topik pembahasannya tidak berada disektor tertentu namun mencoba menjelaskannya secara umum.

Perdebatan yang sering muncul ialah pertanyaan ‘sejauh mana peran Negara?’.  Turunannya ialah dalam hal mengatur Sesuatu `apakah diatur Negara atau bebas mengatur diri sendiri`. “Point terpeting dicoba untuk menjelaskannya ialah bahwa kita kita bisa memilih atau melakukan self control. Walau pun begitu Bukan berarti tidak mendengarkan Negara namun bisa mengacu pada pandangan pendapat Negara,” ungkap Rofi (27/4).

“Dalam hal ini ada pilihan yang dibatasi oleh Negara. Ketika kita tidak dibiarkan memilih berarti sudah terbentuk state control Negara,” jelasnya lagi.

Rofi juga menjelaskan bahwa melalui penjelasn buku tersebut (pada Bab 4)  dapat dipahami  sesorang dapat berperilaku irasional terhadap sesuatu ya, apabila diri nya tidak mendapatkan sesuatu yang ia inginkan tersebut. Ketika ada state control, individu tidak bisa lagi berfikir suatu resiko dengan jernih. Logikanya ialah ketika ada kebebasan untuk memilih, dan pastinya akan ada keputusan untuk bertanggungjawab.

“Pilihan itu harus dipilih dan dilakukan secara sadar, dewasa, dan tidak dipaksa oleh negara. Manusia dewasa adalah manusia yang memilih pilihannya sendiri,” jelas Rofi.

 

Penulis: Risky Wahyudi

Tidak Ada Kalimat Sosok Inspiratif dalam Film Dokumenter Melawan Batas

Email Print

Tuli bukan menjadi hambatan bagi Robi untuk terus berkarya. Terbukti dengan semangat dan ketekunannya Robi tetap mampu berkarya dan mendalami dunia seni layaknya manusia pada umumnya. Banyak prestasi yang telah diukir oleh robi dalam proses pencapaian cita-citanya.

Diawali dengan scene Robi meyetir mobil mampu memikat perhatian penonton. Kemudian dilanjutkan dengan gambaran prestasi apa saja yang berhasil diraih oleh Robi mampu membangkitkan emosi penonton bahwa pada hakikatnya semua manusia itu sama. Kevin maulana Rijal sang sutradara Film Melawan Batas mencoba untuk mengemasnya dalam pendekatan film documenter ekspasitori. Di mana segala informasi tentang robi bisa didapatkan dan dirangkai melalui orang-orang terdekat robi.

Pada film ini Kevin mencoba menjelaskan bahwa difabel dengan manusia normal itu pada hakikatnya setara.  Sama-sama bisa berusaha dan sama-sama bisa untuk mengukir prestasi. Melawan batas menjelaskan bahwa Robi adalah seorang tuli yang menikmati dunia seni dan berhasil banyak mengukir prsetasi juga menghasilkan beragam karya.

Pemutaran film Melawan Batas ini digelar di RAV gedung Prodi Ilmu Komunikasi pada 20 April 2018 pada pukul 14:00. Pada pemutaran tersebut juga diundang langsung Robi sembagai Guest Speaker dalam acara Screenning dan Diskusi Film Tugas Akhir Mahasiswa Komunikasi UII. Diskusi bersifat interaktif dan berhasil menghasilkan gagasan dan pemikiran menarik tentang difabel. Edwina salah seorang narasumber pada film tersebut turut hadir dan mengapresiasi positif film karya Kevin tersebut.

“Saya sangat mengapresiasi film ini. Karena pada film ini saya tidak menemukan kalimat sosok Inspiratif layaknya pada tayangan media pada umumnya,” Ujar Edwina.  Menurutnya kalimat tersebut malah bentuk penyudutan bagi teman-teman difabel. Karena pada dasarnya teman-teman difabel tidak ada masalah dengan dirinya karena mereka masih optimis untuk bisa beraktivitas dan tidak menganggap itu sebagai hal yang perlu untuk dikasihani, hanya saja angle media seringkali menampilkan difabel sebagai sosok yang memprihatinkan.

 

Penulis: Risky Wahyudi

Bedah Buku ‘Pelangi di Timur Tengah’ Digelar di Prodi Ilmu Komunikasi UII

Email Print

Kolaborasi antara PSDMA Nadim Komunikasi UII bersama KLIK18 menggelar bedah buku Pelangi di Timur Tengah dengan  mengundang langsung kreatornya, Denty Piawai Nastitie, Rabu (18/4/2018) di RAV Prodi Ilmu Komunikasi UII. Buku ini merupakan buku fotografi dari hasil dokumentasi perjalanan Denty pada akhir tahun 2015 silam keempat Negara Timur Tengah, yaitu Mesir , Israel, Palestina, dan Jordan. Buku ini diterbitkan pada tahun 2017 silam dengan dikuratori oleh Oscar Motulah dan di desain oleh Andi Ari Setiadi. Bersama Oscar Motuloh buku ini disusun agar bisa memberikan ciri khas perjalanan bersama rombongan.

Ketika diskusi, Denty menjelaskan bahwa perjalananya ini memunculkan pandangan baru bagi dirinya terhadap Timur Tengah yang semula dalam bayangannya identic dengan konflik dan perang. Ia menemukan praktek kehidupan sosial yang rukun dan menjunjung keberagaman. Melalui buku ini Denty mencoba untuk menjelaskan adanya nilai toleransi di Timur Tengah ketika sedang maraknya isu diskriminasi SARA di Indonesia.

Backgroundnya sebagai penulis membuat Denti percaya bahwa buku foto ‘Pelangi di Timur Tengah’ ini memiliki kekuatan dari segi cerita. Sehingga dengan kata lain untuk sekarang ini seorang fotografer tidak hanya cukup memiliki foto yang bagus, namun juga mesti  berhubungan dengan cerita yang kuat. “Fotografer sekarang harus sering dengar cerita dengan orang lain. Sehingga dengan sering mendengar cerita tersebut mampu membuat foto yang bercerita,” jelas Denty (18/4). Kemudian Ia juga menjelaskan bahwa pada akhirnya pun terkait cerita tersebut semuanya tergantung kepada sang fotografer dalam mengenali dirinya sendiri. Sehingga ketika bisa menemukan tema yang hanya dimiliki oleh dirinya, alangkah lebih baik untuk menempel terus pada tema tersebut dan mencoba untuk berani menunjukkannya kepada orang lain. Salah satunya dalam bentuk buku fotografi.

“setiap orang punya pengalaman dan cerita dapat menjadi karya yang bisa dishare. Selain itu juga melalui karya tersebut bisa menjadi bahan obrolan, sehingga  menjadi tempat bertukar ide, “ tutup Denty dalam menyampaikan kesannya di acara bedah buku fotografi tersebut.

 

Penulis: Risky Wahyudi

Foto: Dokumentasi KLIK18