• Office: +62-274-898444 ext. 3267

Film ‘Bunga dan tembok”: Dua tahun Riset dan Nominasi Internasional

UII Yogyakarta— Ini adalah masanya Widji Tukul. Selain “Istirahatlah Kata-Kata” oleh Yosep Anggi Noen, Eden Junjung mengangkat sisi lain kehidupan seniman dan aktivis yang hilang di ujung kejayaan Orde baru ini: ‘Bunga dan Tembok’, sebuah judul puisi yang ditulis Widji Tukul ini sekaligus adalah  judul Film yang diangkat oleh Eden Junjung. 

Pemutaran Film “Bunga dan Tembok” yang disutradarai Eden Junjung ini berlangsung ramai di Ruang Audiovisual Ilmu Komunikasi Universitas islam Indonesia Jumat lalu (31 Maret 2017). Pemutaran yang dilanjutkan dengan diskusi itu kembali menghidupkan sejarah Indonesia yang tak lepas dari pelanggran HAM, dalam kasus ini adalah hilangnya Widji Tukul.

Film dengan tema Widji Tukul ini berhasil mengangkat film dengan perspektif yang sama sekali baru. Eden mengambil sudut pandang kehidupan keluarga pasca hilangnya Widji tukul, si Kepala keluarga. Film ini mampu menghadirkan situasi sulitnya kehidupan ekonomi bangsa Indonesia. “Negara kita kan tidak mengakomodir status orang hilang, yang ada kan orang hidup atau mati,” ungka Siska selaku produser ‘Bunga dan Tembok’.

Film ini adalah sebuah cita-cita Eden yang ingin mengangkat sebuah cerita hidup Fajar Merah, anak Widji Tukul, yang juga tak lain adalah teman Eden sendiri. Inspirasi film ini sangat sederhana. Ia tercekat oleh sebuah Tweet dari Fajar tentang ayahnya. “yang membunuh ayahku adalah Ibuku sendiri,” ujar Eden menirukan kicauan twitter Fajar Merah. Namum film ini tak sembarangan, Eden melakukan riset 2 tahun dan memperbaiki  draftnya hingga 3-4 kali. Pengalaman da kerjakerasnya membuat film ini diganjar rasa haru dari ratusan akademisi dan seniman di National University of Singapore (NUS) dan masuk nominasi Internasional di Bogota Colombia.  

Keluarga Widji Tukul hanya mampu menyandarkan kehidupan mereka dari hutang yang selama ini tak sanggup mereka pinjam. Sulitnya perekonomian keluarga membuat Si Pon, istri Widji Tukul, harus membuat surat kematian suaminya agar ia mampu memperoleh pinjaman atas nama dirinya.

Widji Tukul adalah seniman dan aktivis yang lantang memperjuangkan hak-hak rakyat kecil. Puisi-puisinya sangat keras melawan penguasa Orde Baru saat itu. Puisinya tak pernah mati, puisinya masih banyak di diperbincangkan karena memang masih relevan untuk didengungkan.

Aktifisme dan puisinya membuatnya tak dilupakan sejarah, meski ia harus hilang “tak ditemukan jasad di dalam bumi maupun arwahnya hingga langit ketujuh,” ujar seorang tua yang diminta Si Pon untuk mencari suaminya secara mistis dalam cuplikan film ‘Bunga dan Tembok’.

 

Penulis Sulistiyawati

Foto oleh Sulistiyawati

Last Updated on Monday, 03 April 2017 08:05