• Office: +62-274-898444 ext. 3267

Buka Koleksi PSDMA NADIM Ilmu Komunikasi: Umberto Eco dan Tumpukan Informasi

Jika dulu seseorang mencari 5-10 bacaan sebagai sumber referesi, ia harus mengulak-alik dan memutari perpustakaan. Sekarang 10.000 referensi tersedia di internet dapat dengan mudah dimiliki. Tapi bolehkan ditanya, apa yang ia lakukan dengan setumpuk referensi itu?

Sebuah Newspaper ‘KUNCI’ yang diterbitkan oleh KUNCI Cultural Studies Center menuliskan sebauh wawancara oleh Patrick Coppock dengan Umberto Eco, seorang professor di Institute Kajian Komunikasi di Bologna di tahun 1995. Professor Eco itu mengaku menyerah dengan ribuan lema yang ia dapatkan dari internet. Sama halnya dengan teknologi fotokopian (xerox). “suatu kali saya ke perpustakaan dan mencatat. Saya bekerja keras, tapi diakhir pekerjaan saya menghasilkan kurang lebih 30 saja berkas tentang satu subjek khusus. Kini kalau ke perpustakaan, saya menemukan banyak hal lalu saya tinggal Xerox, Xerox, Xerox (fotokopi-red),…ketika sampai di rumah, saya tak pernah membacannya.”

Hal itu juga banyak dialami di era internet dengan banjirnya informasi. Seseorang merasa capek dengan banyaknya informasi. Tak pernah selesai membacanya. Tak pernah dalam. Apalagi dengan fenomena media sosial, orang sering kali hanya kuat membaca status pendek. Orang mengataiya dengan istilah ‘generasi pembaca status’. Itu pun jika status panjang, orang malas untuk melanjutkan dengan ‘continue rediang—‘.

Eco memberikan solusi dengan Seni Penyusutan (art of decimation). Penyusutan ini kira-kira begini: memilah buku yang hendak dibaca. Lalu membaca ringkasan buku dan  melihat bibliografinya. Ini juga akan berkenaan dengan tahun bibliografi dan juga bebrapa subjek yang berkaitan. Apakah dari sini ada yang kebaruan dan berkaitan dengan subjek yang  kita inginkan. Dan ini belum tentu dapat dilakukan oleh genarasi yang enggan membaca. (Baca selengkapnya di PSDMA NADIM ya? Atau bisa langsung link ke sini ).

Hal kedua adalah berkenaan dengan alat yang memaksanya untuk mengikuti informasi dan peristiwa terus menerus. Bisa dibayangan dengan aplakasi whatapps, begitu banyak gropu yang diikuti dan begitu mudahnya informasi dikirim dan diterima. Dalam satu menit mungkin saja akan mendapat informasi yang berbeda. Terus menerus. Kadang tak penting. Hal ini membuat seseotang enggan untuk membka informasi baru karena dianggap biasa dan tak penting. Bagimana jika ternyaa informasi itu penting. Atau malah sebaiknya, orang jadi harus terus-menerus membuka update informasi  agar tak tertinggal informasi sehingga tak teralienasi dari komunitasnya? “Kesepian adalah masalah besar,” kata Eco.

Eco melanjutkan dengan gagasan membuat komunitas-komunitas maya menjadi jalan untuk mewujudkan komunitas-komunitas tatap-muka. Dengan begitu,”barulah ia akan menjadi alat perubahan sosial yang penting…” lanjut Eco.

Tulisan ini hanyalah secuil dari satu koleksi Pusat Studi dan Dokumentasi Media Alternatif itu tersimpan di pojok rak NADIM. Sudah lebih dari 5 tahun NADIM mengumpulkan berbagai media untuk dijadikan teman minum kopi sampai teman mengerjakan tesis. Banyak sekali koleksi yang kadang tak terjamah. Di sudut bawah rak koleksi ada sebuah bendel newsletter, salah satu koleksi NADIM, yang cukup menarik untuk dibuka dan bisa menjadi bahan refleksi sekaligus menjadi teman untuk membedah realitas sosial dan budaya kita sehari-hari: yang baru saja kamu baca.

Penulis: Sulistiyawati