• Office: +62-274-898444 ext. 3267

Diskusi dan Pemutaran Film Media Gymnasiet Swedia dan Siswa SMK ke Prodi Ilmu Komunikasi

 

UII Yogyakarta – 26 Januari 2017, kamis pagi itu Ruang Audiovisual tampak ramai. Beberapa siswa Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMK N) dari beberapa SMK di Yogyakarta dan beberapa siswa asing tampak asyik mengobrol di ruangan itu. Mereka adalah beberapa siswa SMK Negeri 2 Sewon bantul, SMK Budi Mulia 2 Yogyakarta, Festival Film Pelajar Jogjakarta (FFPJ) dan Media Gymnasiet (MG) Swedia.

Dalam kunjungan tersebut, mereka saling bertukar cerita, pengetahuan, pengalaman,  dan berbagai isu menarik baik di Indonesia maupun di swedia. Diskusi diawali dengan screening 2 film karya anak-anak SMK N 2 Sewon Bantul dan SMK N 3 Batu Malang. Film pertama adalah Putaran pelangai karya  siswa SMK N 2 Sewon Bantul. Film kedua adalah “Demam gadget” karya SMK N 3 Batu Malang. Berawal dari menonton screening film, diskusi mengalir seru dengan membicarakan intoleransi dan remaja Indonesia yang ingin menujukan status sosial dengan gadget dan pelakauku remaja yang sudah kecanduan gadget. 

Pemutaran film tersebut bertujuan melihat realitas sosial Indonesia dan juga Swedia yang direpresentasikan dalam film yang diproduksi oleh SMK N 2 Sewon dan SMK N 3 batu Malang.  Melihat film tersebut peserta saling memebrikan kesan. Cornelia, siswa dari Media Gymnasiet (MG) Swedia terkesima dengan film “Putaran Pelangi” ketika seorang anak membuat kitiran pelangi untuk pengadaan buku Iqra untuk belajar mengaji. “That movie has a beatiful messsage,” ujar Cornelia. 

Terkait film yang kedua, “Demam Gadget”, sebagian siswa dari Media Gymnasiet (MG) Swedia tidak mengerti film tersebut karena kendala bahasa dan budaya. Film yang tidak bersubtitle sulit dicerna, selain juga karena konteks cerita dan budaya yang berbeda. “In Sweden, we can very easy to connect to everyone,” ujar Peter. Hal ini sangat berbeda dengan relitas di Indonesia yang bahkan smartphone juga masih belum banyak dimiliki. 

Diakhir pemutaran film ini, ditutup dengan diskusi menarik bahwa sosial media hanya digunakan sebatas mengunggah dan sekedar pamer, tapi tidak memperlihatkan diri apa adanya. “we better to share about something good, like what we do right now, about what we learn, a diferent site of the world, how people work diffrently,” tambah Cornelia.

  

Penulis: Putri Asriyani & Sulistiyawati

Foto: Intan ZK