• Office: +62-274-898444 ext. 3267

BADUY, PERSPEKTIF ALTERNATIF DI MEDIA ALTERNATIF

Suku Baduy, tak seperti manusia kebanyakan yang terus mengejar kesenangan dan mimpi, mereka dengan rendah hati memenjarakan hasrat kemewahan demi menjaga alam. Adalah Agus Tomin yang berhasil merekam Suku Baduy, suku yang dengan tegas menolak kontaminasi teknologi modern dalam setiap hal remeh dalam keseharian mereka, dengan torehan pena dan cat air. Buku “Baduy, The Real Green Living” menyajikan sajian alternatif dan pandangan alternatif di rumitnya hidup. Buku ini bisa diakses di Pusat Studi dan Dokumentasi media Alternatif (PSDMA) NADIM Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia.

Kita semua mungkin sudah pernah mendengar Suku Baduy, sebuah suku di Jawa Barat yang tak mengijinkan teknologi modern untuk masuk dalam area geografis Suku mereka. Tak hanya teknologi modern yang tak boleh masuk, hasil olahan teknologi modern pun tak boleh. Begitu pula dengan penduduk Baduy juga tak diijinkan menikmati hasil teknologi modern dimanapun.

 

Tapi jika kita sedikit mau menggeser perspektif kita melihat suku ini, kita akan terpukau melihat bagaimana kecerdasan mereka menghindar dari kerusakan peradaban di masa mendatang, tak hanya dari segi ekologi tetapi juga sosial dan ekonomi. Bisa kita bayangkan bagaimana setiap orang ingin bekerja di sektor formal, bahkan ingin bekerja di pertambangan dengan gaji 8-9 digit. Kita bisa lihat pertambangan emas, minyak, batubara, semen meratakan gunung lalu melubangi bumi hingga menjadi cekungan besar dan dalam. Demi gengsi dan menfasilitasi anak-istri dengan teknologi baru dan mewah, orang rela bekerja di perusahaan besar terbuat dari beton besar, pengeruk bumi, penebang pohon dan perusak hutan, pencemar air, udara, tanah.

 

Masyarakat suku Baduy tidak demikian, mereka arif dan bersahaja. Mereka bisa saja keluar dari Baduy dan menikmati kemegahan teknologi dan mengumbar gengsi. Tapi mereka lebih memilih tinggal di rumah bamboo, berjalan tanpa alas kaki. Jika sisa air mandi kita mengotori tanah dengan sabun, Suku Baduy ini jutru menyisakan daun yang akan membusuk menjadi renik yang malah akan menyuburkan tanah dan menghasilkan bahan makanan bagi kelangsungan hidup dan keseimbangan alam.

 

Jika banyak orang mengatakan mereka miskin dan terbelakang, jelas tidak. Kini mereka tak pernah merasa kelaparan dan kekurangan air. Suku Baduy memiliki sistem pengairan dan cadangan air untuk mengantisipasi kekeringan. Mereka memelihara alam, tak pernah menebang pohon, tak pernah mengotori alam. Mereka memilih hidup sederhana dan mudah.

Agus Tomin mengilustrasikan kecerdasan yang dibalut kesederhanaaan Suku Baduy ini dengan apik. Suku Baduy jelas akan menolak seseorang yang membawa kamera untuk mengambil gambar mereka. Tomin, si juru gambar ini, cukup masuk lalu menuangkan suasana keseharian Suku Baduy  dalam gambar. Dalam Buku “Baduy, The Real Green Living”, Tomin jelas menaruh perhatian sangat besar untuk membaur dan melebur bersama masyarakat Baduy. Ia mengamati gerak-gerik masyarakat Baduy dengan detail. Ia mampu mengilustrasikan aktivitas pertanian, perdagangan, budaya, dengan eksplorasi visual yang ekspresif dan detail. Tanpa menjelaskan dengan banyak kata tentang apa itu lancing, lincar, pupurus, atau sunduk ketika mereka membuat rumah.

Tomin juga melukiskan bagaimana menanam padi, bagaimana keluarga saling bercengkrama bertukar informasi, membuat rumah menyelenggarakan upacara, menari, anak-anak bermain, orang membuat kain tenun. Tomin juga memberi tahu pembaca tentang alat apa yang mereka pakai dan menemani, mencukupi kehidupan mereka.

Buku ini juga memberikan sebuah perspektif alternatif bagaimana manusia berdamai dengan hidup, berdamai alam, dan menyikapi kecerdasan dengan bersahaja.

 

Oleh Sulistiyawati