• Office: +62-274-898444 ext. 3267

Editorial 17 (Volumen 9, Nomor 1, Oktober 2014)

 Tahun 2014 adalah tahun politik bagi Indonesia. Hal tersebut membuat tema komunikasi politik menjadi kajian yang cukup menarik untuk dibahas. Beberapa sub-tema komunikasi politik adalah mengenai media dan aktor politik.
 
Tulisan Halimatusa'diah dan Muhammad Thaufan membahas mengenai kaitan antara media massa dengan komunikasi politik. Tulisan Halimatusa'diah berjudul "Isu HAM dalam Kontestasi Pemilu 2014 Sebuah Pendekatan Framing dan Ideologi Media" membandingkan pemberitaan mengenai Prabowo Subianto -- salah satu calon presiden Republik Indonesia-- di dua media yakni Vivanews.com dan Mediaindonesia.com. Kepentingan politik yang dimiliki dua media tersebut membuat mereka media ini tidak lagi menawarkan wacana kejernihan berpikir, apalagi wahana pendidikan politik bagi publik, melainkan turut menjadi “petarung” yang berada persis di belakang para kandidat.
 
Sementara Muhammad Thaufan membahas dalam konteks lokal yakni Pemilukada Sumatera Barat tahun 2010 melalui tulisan berjudul "Representasi Politik Opini Publik terhadap Pemilukada Sumatra Barat 2010 pada Koran Singgalang dan Program Sumbar Satu". Dengan pendekatan studi kasus dan analisis wacana kritis pada level teks, Thaufan berpendapat bahwa  wacana dan sosiokultural ditemukan opini public politis telah diartikualsikan secara maksimal oleh media, elit dan masyarakat pemilih. Representasi opini politis ini menandakan kedigdayaan logika media dan juga kepentingan terselubung dari media dan elit untuk menjaga demokrasi local dengan penyebaran informasi strategis, meyakinkan pemilih, dan membuat kesan baik demi memenangkan pemilihan.

Masih dalam tema komunikasi politik, Dini Safitri menyajikan kajian komunikasi politik berkaitan dengan aktor politik dalam tulisan berjudul "Woman and Political Communication: Megawati dan Pemimpin Simbolik". Keterlibatan perempuan dalam politik di Indonesia mengalami persoalan mendasar, yaitu keterwakilan perempuan yang sangat minim di ruang publik. posisi perempuan dalam politik, sangat fluktuatif di Indonesia. Hal itu disebabkan karena proses demokrasi di Indonesia tidak melalui cara-cara bertahap (gradual) tapi melalui lompatan-lompatan (leaps). Setiap lompatan demokrasi akan menghasilkan visi-visi politik negara yang berbeda dan terkadang sangat dramatis dalam melihat persoalan perempuan. Fenomena tersebut memunculkan sosok Megawati yang mewakili perempuan Indonesia yang pernah mencapai puncak pemimpin tertinggi Indonesia. Sebagai seorang pemimpin, Megawati adalah pemimpin simbolik. Megawati mewakili sosok pemimpin simbolik yang mencoba mengomunikasikan bagaimana memperoleh status, prestise dan reputasinnya, atau dengan kata lain untuk memenuhi fungsi dan simbol yang menyatu.

Tema tentang perempuan juga hadir lewat tulisan Ratna Permata Sari yang menyoroti terjadinya pembungkaman kaum perempuan dalam film Indonesia. Ratna mengambil film berjudul "Pertaruhan" kemudian menggunakan teori Muted Group sebagai dasar pembahasan. Beberapa aspek dalam film tersebut melalui dialog dan narasi, penulis berusaha melihat pembungkaman perempuan karena adanya bahasa yang dikonstruksi oleh laki-laki. Kuatnya unsur budaya suatu kelompok masyarakat yang memberikan jurang pemisah yang cukup jauh antara konsep gender antara perempuan dan laki-laki juga ikut ambil bagian yang besar dalam membungkam kaum perempuan.


Terdapat sejumlah tema lain dalam jurnal edisi kali ini yakni media dan ruang publik, pembahasan tentang acara televisi, dan komunikasi antar budaya. Tulisan berjudul "Program Siaran Interaktif (Talk Back Radio) Sebagai Ruang Publik Masyarakat Untuk Mengembangkan Demokrasi Lokal : Studi Pada Program ”Citra Publika” Radio Citra 87,9 FM Kota Malang" oleh Rochmad Effendy. Rochmad berpendapat program siaran tersebut dapat mendorong partisipasi warga untuk melakukan kontrol sosial. Namun konflik manajerial dari pengelola radio  membuat siaran program tersebut berhenti.

Kemudian tema mengenai konten acara televisi Indonesia hadir melalui tulisan "Analisis Isi Kekerasan Verbal dalam Sinetron "Tukang Bubur Naik Haji The Series" di RCTI (Episode 396-407) (Alvionita Choirun Nisa dan Umaimah Wahid). Meski merupakan sinetron yang menggunakan simbol-simbol Islam, namun kata-kata kasar yang merupakan bentuk kekerasan verbal justru "menghiasi" sinetron ini.
Sedangkan Mutia Rahmi Pratiwi melalui tulisan "Pemberitaan Masalah Rumah Tangga Selebritis  sebagai Media spectacle" membahas program infotainment melalui pendekatan Media Spectacle Guy Debord. Pratiwi berpendapat persoalan rumah tangga ala kemasan Infotainment akan menjadi pusat perhatian para penonton infotainment untuk terus mengikuti alur cerita konflik tersebut, layaknya menonton sinetron yang tak berkesudahan.


Tema mengenai perkembangan teknologi komunikasi terdapat dalam tulisan "Esensi Interaksi Visual dalam Dunia Facebook yang Virtual". Noval Sufriyanto Talani membahas fenomena interaksi di Facebook. Penelitian ini menggunakan pendekatan subjektif dengan metode penelitian kualitatif melalui perangkat analisis fenomenologi dan interaksi simbolik. Secara esensial, interaksi di Facebook merupakan interaksi visual. Melalui visual, pengguna dapat menampilkan berbagai tindakannya di Facebook termasuk pengelolaan kesan secara simbolik. Pengelolaan kesan di Facebook sangat dipengaruhi relasi intensional antara diri fisik sebagai subjek di dunia nyata dan diri simbolik yang menjadi objek di dunia virtual.

Tema mengenai komunikasi antar budaya hadir dalam tulisan karya Jonas Klemens Gregorius Dori Gobang berjudul "Konflik budaya Lokal pada Masyarakat di Pulau Flores: Sebuah Analisis Komunikasi Lintas Budaya". Konflik budaya lokal pada masyarakat dapat dipicu oleh berbagai macam faktor baik yang bersifat ideologis maupun dalam tataran praksis. Konflik budaya ini dapat diubah menjadi sesuatu yang menguntungkan masyarakat pendukung kebudayaan-kebudayaan yang berbeda bila dapat dikelola secara baik dan benar melalui pendekatan yang tepat. Penelitian ini mencoba menghadirkan beberapa aspek dari pendekatan teori komunikasi lintas budaya dalam mencermati konflik dan mengelola konflik lintas budaya agar konflik dapat menjadi potensi untuk membangun persaudaraan dan persatuan di dalam keragaman budaya-budaya yang ada di Pulau Flores. (*)

Last Updated on Thursday, 30 July 2015 07:51