• Office: +62-274-898444 ext. 3267

Editorial 16 (Volume 8, Nomor 2, April 2014)

 Internet sebagai bentuk perkembangan teknologi komunikasi telah mempengaruhi praktek-praktek komunikasi. Kehadiran internet telah melahirkan berbagai saluran komunikasi yang memungkinkan para pengguna untuk mencari informasi dengan cepat dan mudah, melakukan komunikasi dengan siapa pun, dan berkomunikasi secara interaktif. Singkatnya, internet telah memberikan kemudahan kepada pelaku komunikasi, mulai dari individu hingga lembaga. Tetapi di samping berbagai kemudahan tersebut, dalam prakteknya penggunaan internet juga masih menimbulkan kegamangan. Tema-tema tersebut hadir dalam Jurnal Komunikasi edisi April 2014.

Tulisan Imam Nuraryo tentang pemanfaatan situs jejaring sosial oleh mahasiswa Muslim Indonesia yang menempuh studi di luar negeri membuka edisi kali ini. Subjek yang diteliti adalah 10 mahasiswa Muslim Indonesia yang tengah menempuh atau telah menyelesaikan studi di Austalia. Hasil penelitian adalah mayoritas informan menggunakan situs jejaring sosial untuk berbagi informasi tentang Islam, cara menyesuaikan diri di lingkungan non-Muslim, berbagi pengalaman kultural seperti menghadapi stereotipe atau mencari makanan halal dan tempat sholat.

Pemanfaatan jejaring sosial oleh lembaga dibahas oleh Ita Suryani dengan mengambil contoh kasus akun media sosial milik Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparkeraf RI) dan Dinas Pariwisata dan Budaya Propinsi Jawa Barat. Suryanti menyimpulkan pemanfaatan media sosial tersebut dapat menjadi salah satu solusi untuk mempromosikan produk dan potensi lokal Indonesia dalam rangka menghadapi kompetisi di ASEAN Community 2015.

Tulisan ketiga membahas perkembangan teknologi komunikasi dalam hubungannya dengan dengan kehidupan politik sebuah negara. Internet dipandang dapat mendukung terjadinya e-democracy. Tetapi bagaimana dengan di Indonesia? Melalui tulisannya, Ahmad Alwajih menganalisis dan memetakan beberapa kebimbangan dalam implementasi edemocracy di Indonesia, sehingga berbagai ketegangan antara relasi internet, negara, dan masyarakat dapat tergambarkan dengan jelas.

Tulisan keempat masih berkaitan dengan demokrasi di Indonesia, tetapi kali ini tidak mengangkat tema perkembangan teknologi komunikasi. Abdul Rohman berpandangan bahwa kelas menengah di Indonesia masih belum memiliki ruang yang cukup dalam agenda politik. Artikel teresbut menyimpulkan bahwa untuk merangkul golongan kelas menengah dalam kehidupan politik. perlu strategi komunikasi yang fit secara multiarah, mengedepankan prinsp keterlibatan dan dialog melalui variasi yang erfektif Implementasi kebijakan kepala daerah ditinjau dari perspektif komunikasi pembangunan merupakan tulisan kelima di jurnal kali ini. Tulisan Indah Suryawati secara khusus membahas kebijakan Kartu Jakarta Sehat (KJS) dan Kartu Jakarta Pintar (KJP) yang dikeluarkan oleh Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo. Hasil penelitian ini menjelaskan implementasi kebijakan program KJS dan KJP di tahun pertama masa kepemimpinan Jokowi belum sepenuhnya menyentuh masyarakat miskin dan rentan miskin di DKI Jakarta.

Dalam tulisan berikutnya, Mukhijab membahas peran media dalam pemberantasan korupsi di Indonesia. Peran tersebut dilihat melalui kebijakan editorial media dalam mengkonstruksi realitas sosial kasus korupsi. Menurut Mukhijab, masalah muncul ketika media menjadikan pemerintah dan institusi-institusi yang memiliki kekuatan ekonomi dan politik sebagai mitra strategis. Itu membuat sikap politik media cenderung konservatif atau sekedar menulis ulang dalam mengkonstruksi kasus korupsi dengan alasan memelihara objektivitas mereka.

Tulisan ketujuh memaparkan mengambil objek kajian komik jurnalistik Footnotes in Gaza dalam menghadirkan wacana kekerasan fisik konflik Palestina-Israel. Menurut Ridhani Agustama dan Anang Hermawan, Footnotes in Gaza sangat gamblang dalam menggambarkan kekerasan fisik tentara Israel di Palestina, khususnya pada kejadian di Raffah dan Khan Younis pada 1956. Dengan memakai metode posisi subjek-objek milik Sara Mills, terlihat jelas dalam Footnotes in Gaza, posisi pencerita (subjek) selalu dipegang oleh korban (rakyat Palestina), sementara itu yang menjadi objek adalah tentara Israel dengan segala tindak kekerasannya. Konten dalam komik ini dinilai sebagai pandangan alternatif di tengah dominasi informasi oleh Media Barat dalam konflik Palestina-Israel.

Riset mengenai kebiasaan mengkonsumsi media (media habit) anak usia dini menjadi tulisan penutup Jurnal Komunikasi UII kali ini. Dalam risetnya, Gushevinalti, dkk. meneliti media habit pada anak usia dini/siswa TK di Kota Bengkulu. Gushevinalti dkk menyimpulkan bahwa kebiasaan menonton televisi dan pola konsumsi media yang dilakukan oleh anak usia dini di Kota Bengkulu sangat mengkhawatirkan. Waktu anak menonton berkisar 3-5 jam per hari. Istilah pacaran, jatuh cinta, kekasih merupakan istilah yang dimengerti anak melalui lagu dan sinetron/film yang mereka tonton.

Last Updated on Thursday, 30 July 2015 07:51