• Office: +62-274-898444 ext. 3267

Editorial 12 (Volume 6, Nomor 2, April 2012)

 Jurnal Komunikasi Volume 6 Nomor 2 April 2012 ini memaparkan tiga sudut pandang dalam melakukan kajian terhadap media, yakni dari segi produksi media, konsumsi media, dan produk (baca: konten atau isi) media. Membahas produksi media memungkinkan melihat bagaimana pola kerja dari media dan menganalisisnya dengan konsep-konsep yang sudah ada. Kajian dari sisi konsumsi, memungkinkan untuk mengetahui bagaimana tanggapan orang setelah mengkonsumsi produk media. Selain itu, dapat dilihat juga bagaimana perilaku konsumsi media oleh kelompok tertentu dan pengaruhnya pada kehidupan keseharian mereka. Sementara isi yang disajikan media kepada khalayak tentu tidak hadir begitu saja. Ada hal-hal yang mempengaruhi serta nilai-nilai tersirat yang terkandung dalam isi media. Hal-hal tersebut dapat diketahui melalui pembahasan dari segi konten atau produk media.


Tulisan dalam edisi ini dibuka oleh Ratna Permata Sari dengan artikelnya “Fandom dan Konsumsi Media, Sebuah Studi Etnografi Kelompok Penggemar Super Junior, ELF Jogja”. Dalam artikel berbasis studi etnografi ini, penulis memotret fenomena fandom di kalangan penggemar K-Pop di Yogyakarta. Korean Wave memang tengah menerpa anak muda Indonesia bahkan dunia, sehingga bermunculan lah penggemar serta basis komunitas penggemar Korea di seantero wilayah, termasuk di Yogyakarta. Secara spesifik artikel ini mengupas perilaku konsumsi media oleh ELF Jogja dan interaksi antara para anggotanya dalam komunitas virtual atau yang nyata. Temuan dalam riset ini adalah bahwa para fans K-Pop cenderung memiliki perilaku pembelian yang konsumtif, terutama terhadap barang-barang yang bertema Korea; selain itu, terdapat pula perbedaan pola komunikasi dan interaksi antaranggota saat ia tengah berada di  komunitas nyata ataupun dalam komunitas maya.

Artikel berikutnya Sumekar Tanjung membahas mengenai pemaknaan maskulinitas di majalah Cosmopolitan Indonesia menggunakan pisau bedah semiotika Roland Barthes. Menganalisis delapan artikel yang mewakili konsep maskulinitas pada edisi Agustus, September, Oktober, dan Desember 2011, Tanjung menemukan bahwa terdapat tiga kategori pemaknaan maskulinitas di majalah Cosmopolitan Indonesia. Kategori pertama adalah “laki-laki sehat, kekar dan gaya” yang disebut Mark Simpson sebagai metroseksual. Pada kategori ini, Cosmopolitan menganggap penampilan merupakan sesuatu hal yang esensial. Ada semacam benang merah yang mengaitkan antara kebugaran tubuh – keperkasaan fisik – keperkasaan seksual – dan kebahagiaan. Kategori kedua adalah “laki-laki mapan dan bertanggung jawab”. Cosmopolitan Indonesia memberikan pemaknaan bahwa keberhasilan hidup seorang laki-laki itu sangat dipengaruhi oleh kemapanannya. Kategori terakhir adalah “perempuan independen dan berani”. Cosmopolitan Indonesia menjelaskan bahwa wanita independen adalah wanita yang membutuhkan pasangan dalam hidup, namun tidak manja. Wanita ini mandiri dan mampu menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa bantuan orang lain.

Artikel yang juga membedah konten produk media ditulis oleh Noveri Fikar Urfan. Dalam tulisan berjudul “Representasi Pribumi dalam Iklan Surat Kabar Pandji Poestaka 1940-1941”, Urfan menggunakan analisis semiotik dalam membahas representasi pribumi dalam iklan cetak. Hasilnya, Pandji Poestaka menunjukkan representasi pribumi dalam dikotomi stratifikasi kelas. Kaum priyayi digambarkan sebagai kelompok yang berpendidikan, kaya, dan beradab. Sementara kaum wong cilik direpresentasikan sebagai masyarakat yang tradisional, malas, dan terbelakang. Menurut analisis Urfan, dikotomi ini merupakan strategi penjajah untuk mempertahankan kedudukannya di Hindia Belanda. Dengan menyajikan kelas sosial di media cetak, pemerintah Hindia Belanda ingin menciptakan kesenjangan kelas, sehingga mereka dapat mempertahankan dan memperkuat ideologi kolonial di Indonesia.
Artikel berikutnya membahas industri film. Dalam artikelnya “Speak Out Your Films: When Asian Independent Film Festivals Send Messages to the World”, Zaki Habibi menyoroti tiga festival film independen di tiga negara di Asia sebagai fokus studi. Ketiganya adalah (1) Jeonju International Film Festival (JIFF) di Jeonju, Korea Selatan, (2) Cinemalaya Philippine Independent Film Festival di Manila, Filipina, dan (3) Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) di Yogyakarta, Indonesia. Kajian dilakukan dengan mengadopsi pendekatan studi kasus berganda (multiple case studies). Habibi menjelaskan, ketiga festival film di Asia ini ternyata menawarkan sistem alternatif dalam ranah distribusi film, lalu mempraktikkan cara yang tidak konvensional dalam mengelola sebuah festival, serta mendayagunakan komunitas dan jejaringnya sebagai basis pengembangan masing-masing festival tersebut.
Fokus analisis teks media ditampilkan pada artikel berikutnya oleh Tesa Herowana dan Sumekar Tanjung yang mengupas pemberitaan mengenai kasus dugaan korupsi yang dilakukan Anas Urbaningrum atas proyek pembangunan pusat olahraga. Analisis framing digunakan untuk melihat bagaimana harian Jawa Pos dan Kompas memberitakan kasus Anas Urbaningrum tersebut. Kajian dalam artikel ini mengambil sampel pemberitaan tahun 2012. Hasilnya, Jawa Pos memberitakan kasus Anas Urbaningrum dengan resolusi, sementara harian Kompas menyajikan berita tersebut tanpa resolusi.

Masih seputar analisis teks media, artikel berikutnya bicara mengenai program “Opera Van Java” yang ditayangkan oleh salah satu stasiun televisi Indonesia. Annisa Risecha Junep dalam artikel ““Opera Van Java (OVJ) di Mata Penonton Etnis Luar Jawa”: Menyorot Fenomena Opera Van Java di Indonesia” menjelaskan mengenai resepsi penonton non etnis Jawa dalam menonton OVJ.

Sudut pandang produksi media dalam edisi ini hadir melalui ulasan buku “detik.com Legenda Media Online” oleh Narayana Mahendra Prasyta. Buku setebal 200 halaman yang ditulis oleh A. Sapto Anggoro ini banyak memuat perjalanan detik.com. Beberapa di antaranya juga berisi pengalaman pribadi Anggoro mulai dari awal dia bekerja sama dengan detik.com, direkrut oleh detik.com, mengalami pasang surut bersama detik.com, dan sebagainya. Secara umum, Prastya membahas mengenai fenomena jurnalisme online dalam mengulas buku ini. Ia mengkritisi sisi pemberitaan jurnalisme online yang mendahulukan kecepatan namun menepikan aspek akurasi. Selain itu, berita di media online juga cenderung dibesar-besarkan. Terlepas dari kritik yang mengiringi praktik jurnalisme online, menurut Prastya buku ini tetap perlu diapresiasi. Sebab tak banyak perusahaan media yang mau “buka-bukaan” mengenai isi dapur mereka.

Last Updated on Thursday, 30 July 2015 07:51