• Office: +62-274-898444 ext. 3267

Editorial 11 (Volume 6, Nomor 6, Oktober 2011)

 Jurnal Komunikasi Volume 6 Nomor 1, Oktober 2011 ini mengangkat berbagai kajian di bidang ilmu komunikasi. Dibuka dengan tulisan Narayana Mahendra Prastya yang berjudul “Komunikasi Krisis di Era New Media dan Social Media” menyoroti aktivitas PR dalam merespon krisis berkaitan dengan perusahaan, dengan memanfaatkan teknologi komunikasi. Di era teknologi tinggi, media baru dan sosial media memberi pengaruh kuat terhadap aktivitas kehumasan, salah satunya dalam menyelesaikan krisis perusahaan yang berkaitan dengan publik. Prastya menghadirkan dua contoh kasus penggunaan media baru dan media sosial oleh perusahaan di Indonesia. Pertama, adalah contoh sukses dari penggunaan media sosial yang ditunjukkan oleh maskapai penerbangan Garuda Indonesia yang berhasil memberikan respon dengan cepat dan bertindak secara konsisten. Kedua, adalah contoh kegagalan memanfaatkan media baru oleh PT Liga Prima Indonesia ketika mereka menanggapi rumor bahwa kompetisi Liga Primer Indonesia (LPI) berhenti/dihentikan. PT Liga Prima Indonesia tidak memberikan respon dengan cepat dan tidak bertindak secara konsisten.
 
Artikel selanjutnya bicara tentang media sebagai industri. Olivia Lewi Pramesti menulis artikel berjudul “Pembentukan Identitas Korporat PT Kompas Media Nusantara sebagai Penyedia Konten (Content Provider) Televisi Lokal Pertama di Indonesia”. Sesuai tajuknya, artikel ini membahas bagaimana PT Kompas Media Nusantara membangun identitas korporat mereka di ranah industri televisi. Tahun 2011, Kompas yang telah sangat dikenal sebagai brand surat kabar nasional, mendirikan stasiun televisi bernama KompasTV. Pembentukan KompasTV tak terlepas dari perkembangan teknologi komunikasi, yang mengharuskan perusahaan media harus bisa beradaptasi agar tak tersingkir dari kompetisi. Pramesti melengkapi pembahasan mengenai perjalanan KompasTV dan KMN dengan menyajikan kajian literatur mengenai komunikasi korporat dan identitas korporat dalam artikel ini.

Pada tulisan ketiga Noveri Faikar Urfan bertema komunikasi politik dengan menangkap gejala mediatisasi di dunia politik saat ini. Melalui artikel berjudul “Membaca Gejala ‘Mediatisasi’ Politik di Indonesia”, Urfan ingin menunjukkan bahwa terdapat gejala internalisasi logika media massa dalam praktik politik dewasa ini. Jika dulu media massa dijadikan alat dominasi dan propaganda politik, kini dunia politik lah yang “menunggang” media massa agar dapat dikenal dan membentuk citra di mata konstituennya. Hal ini terjadi karena adanya pergeseran sistem politik, dari represif menjadi longgar. Melalui fenomena ini, Urfan melihat bahwa ada pergeseran kultural dalam keseharian persoalan politik. Pada masa Orde Baru, media massa menempati posisi subordinat atas wilayah kekuasaan, sehingga persoalan politik tidak banyak riuh akibat proteksi rezim.Kini, peta kekuatan seolah berbalik 180 derajat, media massa semakin kuat, bahkan terasa lebih dominan dari politik itu sendiri.Ini artinya, media massa hari ini sudah memiliki bargaining position yang luar biasa terhadap politik.
 
Kajian komunikasi politik internasional ditulis Abdul Rohman. Dalam artikelnya ia membahas tentang kebijakan, khususnya kebijakan perang Irak dan Vietnam. Artikelnya yang berjudul “Vietnam and Iraq Wars: Parallelism and Its Impact on U.S. Foreign Policy” membuka diskusi mengenai beberapa kebijakan yang diterapkan pemerintah Amerika Serikat saat perang Vietnam dan perang Irak dalam hal kualitas inetlijen dan pengambilan keputusan di tingkat Kongres. Ada dua kesamaan yang teridentifikasi: kegagalan intelijen dalam kebijakan terhadap kedua perang, dan kontroversi di sekitar kebijakan untuk mendeklarasikan perang Vietnam maupun perang Irak. Perspektif kritis disajikan juga dalam artikel ini, untuk mengembangkan kualitas kebijakan luar negeri, dengan cara lebih memperhatikan apa yang dianggap lebih penting oleh Sekutu dan dengan meningkatkan kerja sama multilateral untuk menyelesaikan ancaman multinasional terbesar.
 
Zaki Habibi dalam artikel selanjutnya “Photography and Catastrophe: Reading Photographs of the Disaster Event”, menyajikan fakta menarik mengenai foto tentang Bencana Erupsi Merapi tahun 2010 yang diambil oleh dua kelompok berbeda: jurnalis foto profesional dan sukarelawan bencana. Melalui mata analisis semiotika Roland Barthes yang dikombinasikan dengan pendekatan kritis kajian media visual terutama fotografi, pembacaan Habibi terhadap kedua kelompok seri foto menunjukkan adanya perbedaan representasi yang menonjol. Seri foto oleh jurnalis merepresentasikan peristiwa bencana sebagai paradoks: antara “kerusakan” dan “keindahan” oleh alam. Sedangkan, seri foto oleh sukarelawan lebih berfokus pada representasi penyintas (survivors) dalam upaya rehabilitasi. Temuan pembacaan ini menggiring pada kesimpulan bahwa peran fotografi terhadap pembentukan persepsi dan memori manusia akan waktu, ruang, tubuh, dan pikiran sangatlah relatif, khususnya terkait peristiwa bencana.

Akhirnya, Muzayin Nazaruddin menutup edisi ini dengan menuliskan review terhadap artikel yang disusun Stuart Hall dalam buku “Media and Cultural Studies: Keyworks”. Artikel Hall berjudul “Encoding/Decoding”, direvisi dengan jernih oleh Nazaruddin. Artikel ini sendiri dibuka oleh Hall dengan kritik terhadap tradisi klasik dari riset media massa yang memandang proses komunikasi sebagai garis linear, dengan model pengirim/pesan/penerima (sender/message/receiver atau SMR). Tradisi klasik ini terlalu berkonsentrasi pada level pertukaran pesan, dan memandang aktivitas komunikasi semata-mata sebagai fenomena stimulus dan respon. Tradisi klasik melupakan kompleksitas struktur yang eksis dalam proses komunikasi itu sendiri. Hall kemudian menawarkan pemahaman baru dalam fenomea komunikasi terutama pada level komunikasi massa. Pemahaman baru ini kemudian luas dikenal sebagai “encoding/decoding perspective”.
 

Last Updated on Thursday, 30 July 2015 07:51