• Office: +62-274-898444 ext. 3267

Editorial 9 (Volume 5, Nomor 1, Oktober 2010)

 Industri media massa dan jurnalisme menghadapi fase baru di era digital. Era ini ditandai dengan beberapa konsep kunci seperti global village, aksi berbasis komunitas, dan budaya digital. Konsep-konsep ini menghadirkan media baru (new media) yang menantang peran media konvensional dengan orientasi dan nilai-nilai sosial yang baru pula. Kondisi ini tentu memerlukan respon yang berbeda dibanding beberapa dekade lalu. Jika media baru dengan segala sisi interaktifnya melahirkan konvergensi media, jurnalisme pun dituntut berubah menyikapi dunia baru yang dibawa oleh konvergensi media

Topik inilah yang dibahas mendalam dalam Jurnal Komunikasi Volume 5. Jurnal ini diawali dengan tulisan Zaki Habibi yang menyoroti perdebatan seputar konvergensi media sebagai suatu fenomena yang tak terelakkan dalam perkembangan media massa abad ke-21. Menyertakan sejumlah hasil studi kasus di Inggris, Denmark, dan Indonesia, Habibi mengantar kita untuk berdiskusi perihal dampak dan tantangan yang dihadapi awak redaksi media. Termasuk keresahan apakah suratkabar sebagai sebuah bentuk media akan lenyap di tengah pusaran kuat determinasi teknologi dalam industri media massa. Tema yang sama diangkat oleh Choky Rais Bawapratama, melalui penelitiannya tentang bagaimana konvergensi mediadalam hal ini penggunaan media dengan format berbedamemengaruhi perubahan pola kerja Sumber Daya Manusia (SDM) Bagian Redaksi di Harian Solopos.

 

Topik inilah yang dibahas mendalam dalam Jurnal Komunikasi Volume 5. Jurnal ini diawali dengan tulisan Zaki Habibi yang menyoroti perdebatan seputar konvergensi media sebagai suatu fenomena yang tak terelakkan dalam perkembangan media massa abad ke-21. Menyertakan sejumlah hasil studi kasus di Inggris, Denmark, dan Indonesia, Habibi mengantar kita untuk berdiskusi perihal dampak dan tantangan yang dihadapi awak redaksi media. Termasuk keresahan apakah suratkabar sebagai sebuah bentuk media akan lenyap di tengah pusaran kuat determinasi teknologi dalam industri media massa. Tema yang sama diangkat oleh Choky Rais Bawapratama, melalui penelitiannya tentang bagaimana konvergensi mediadalam hal ini penggunaan media dengan format berbedamemengaruhi perubahan pola kerja Sumber Daya Manusia (SDM) Bagian Redaksi di Harian Solopos.

Terlepas dari soal konvergensi media, praktik jurnalisme sesungguhnya tidak menghendaki kebergantungan besar media pada sumber resmi karena memiliki potensi buruk bagi kepentingan publik. Kondisi itu terjadi karena tidak selamanya sumber resmi bisa diandalkan untuk menyampaikan fakta yang teruji dan apa adanya. Wendratama dalam tulisan ketiga menjadikan kasus pemberitaan crop circle di Berbah, Yogyakarta sebagai contoh. Ia menilai, kebergantungan media pada sumber-sumber resmi–dan mengabaikan sumber data lain yang lebih relevan–membuat berita tentang crop circle terlihat berlebihan dan tergesa-gesa. Informasi prematur pun bermunculan dan berpotensi menyesatkan. Dari kasus tersebut, menarik untuk dikaji bagaimana cara kerja media dalam mendapatkan berita, terutama media online dan televisi berita, yang memiliki peran dominan bagi cara khalayak menerima informasi dan mengkonstruksi dunia sosialnya.

Tulisan keempat mengupas bagaimana agenda setting media memengaruhi opini dan kebijakan-kebijakan publik. Puji Rianto menggunakan kasus Bibit-Chandra vs Polri sebagai contoh bagaimana peranan media dalam memengaruhi opini publik dan akhirnya kebijakan publik. Rianto menekankan, kekuatan agenda setting dan pengaruhnya terhadap opini maupun kebijakan publik memperlihatkan bahwa media– dalam konteks ini, media interaktif–mampu mendorong gerakan sosial yang lebih luas.

Sementara, Liliek Budiastuti Wiratmo dan Sadakita Br. Karo mengangkat titik kritis seputar pertelevisian Indonesia. Wiratmo mengupas program berita kriminal di lima stasiun televisi swasta. Ia mendedah proses sebuah berita kriminal bisa ditayangkan untuk pemirsa, termasuk faktor apa saja yang memengaruhi kebijakan redaksi stasiun televisi mengenai program berita kriminal. Sedangkan Karo membahas hubungan karakteristik siswa SMA dan terpaan media dengan sikap kritis menonton televisi.

Sebagai penutup, Kadek Dwi Cahaya Putra menjelaskan pentingnya pendekatan Kehumasan pada industri pariwisata dan identitas, citra, dan reputasi Bali selama krisis. Putra mencatat, pasca bencana bom yang melanda, Bali mengembalikan citranya dengan memperbaiki sistem keamanan lokal dan mengembangkan rencana manajemen isu dan konflik. Semua itu didukung oleh promosi strategis dan pendekatan Kehumasan. Sebab menurutnya reputasi Bali seharusnya tidak terlalu bergantung pada pariwisata, namun terintegrasi dengan brand produk, kebijakan pemerintah, investasi, budaya dan masyarakat, serta strategi Diplomasi Publik yang efektif.

Demikian aneka sajian tema Jurnal Komunikasi edisi kali ini. Kami mengundang kontribusi berupa tulisan dari pembaca untuk edisi Jurnal Komunikasi berikutnya. Selamat membaca.

 

 

 

 

Cara Memperoleh Jurnal Komunikasi UII

Email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
Telp: (0274) 898444, ext.3267
Harga tiap edisi Rp. 25.000 (belum termasuk ogkos kirim)
Minimal order 2 eksemplar

 

Last Updated on Thursday, 30 July 2015 07:51